PDRI DI PADANG JAPANG DAN KOTO KOCIAK

Perjalanan ke Padang Japang

Saat itu pada mulanya saya ingin mencari informasi Haji Piobang. Lalu saya berangkat dari rumah menuju Koto Nan Empat terus ke Payolansek hingga sampai di simpang empat Talang. Saya pun lurus ke Talang dan hingga sampai di simpang Beringin. Kalau belok kanan akan tiba di Sungai Durian, Perambahan dan Lampasi namun  kalau belok ke kiri akan menuju Gando Piobang.

Di nagari Sungai Beringin ini terdapat sebuah rumah gadang yang bagus dan dibuka untuk umum. Dengan pekarangan yang luas, bersih dan rapi maka rumah gadang Sungai Beringin ini ramai dikunjungi oleh wisatawan.

Dari Talang hingga sungai Beringin ini jalan-jalan termasuk bagus dan meski belum cukup lebar. Tidak terlalu banyak kendaraan yang lewat di sini namun daerah ini cukup ramai dan masyarakatnya banyak yang hidup bertani dan pegawai.

Menjelang sampai di Gando Piobang, jalan-jalan akan melewati persawahan dengan perbukitan yang bagus. Menurut penulis cukup bagus bagi mereka yang suka memotret alam secara professional. Dan selelah memasuki area perumahan masyarakat maka daerah ini adalah jorong Gando dari kenagarian Piobang. Setelah melewati ada sebuah belokan di tepi jalan dan ada gerbang menuju makam kuburan di sampingnya, maka kuburan itu adalah makam Haji Piobang dan ajudannya.

Menurut cerita tentang Haji Piobang yang dikisahkan oleh Haji Adis yang ditemui oleh penulis di kediamannya di jorong Ampang Gadang mengatakan bahwa Haji Piobang bernama asli Muhammad Abdurahman. Sewaktu kecil ia belajar di Ulakan yang didirikan oleh Syech Burhanudin Ulakan. Dan setelah dewasa ia membantu-bantu orang tuanya dan menikah dengan gadis dari jorong Gando.

Haji Piobang mendapatkan keturunan laki-laki dari pernikahan. Ketika anak itu sudah berumur 7 tahun, Haj Piobang membawa anaknya untuk naik haji ke Mekah. Setelah ibadah haji selesai haji Piobang tetap menetap di Mekah untuk menuntut ilmu. Anaknya pun meninggal di sana.

Selama di Mekah, Haji Piobang bertemu dengan Haji Miskin dari Koto Tuo Agam dan Haji Sumanik dari Batu Sangkar. Dan ketika haji ini sempat bergabung dengan gerilyawan arab untuk melawan Inggris di Thaif. Dan pada masa pemerintahan Arab Saudi, raja Abdul Azis bin Saud yang menganut paham wahabi, tiga haji ini pulang ke ranah Minang pada tahun sekitar 1804 Masehi dan menyebarkan paham wahabi di ranah Minangkabau.

Dari penyebaran paham Wahabi ini lambat laun berubah menjadi Perang Paderi melawan Belanda. Hingga kepemimpinan Paderi di lanjutkan oleh Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Imam Bonjol pun ditangkap Belanda dan diasingkan ke Manado.

Namun dari semua perjuangan di atas, Haji Piobang adalah ahli strategi perang. Haji Piobang leluasa memasukkan senjata dari Aceh atau pun Selat Malaka tanpa diketahui dan tertangkap oleh belanda. Namun kematian Haji Piobang disebabkan oleh seorang penghianat. Yang mana ketika itu Haji Piobang ingin menghabiskan masa tuanya di kampung kelahirannya di Piobang. Namun Belanda memberikan janji hadiah kepada siapa saja yang berhasil menangkap atau membunuh haji Piobang. Dan ketika sebelum subuh yang naas, Haji Piobang beserta ajudannya dipenggal oleh seorang penghianat.

Kepala Haji Piobang dibawa ke Taeh oleh pembunuh tersebut. Dan salah seorang murid dari Haji Piobang mendengar kabar terbunuh Haji Piobang di Lintau, muridnya itu pergi ke Piobang untuk menguburkan jenazah yang tidak berkepala itu di Gando Piobang. Makam itu sekarang dipugar oleh pemerintah dan terawat dengan baik.

Dari Gando Piobang saya meneruskan perjalanan hingga sampai pada persimpangan. Jika persimpangan ke kanan akan menuju ke Parumpuang dan Koto Baru Simalanggang. Dan berbelok kiri akan menuju jorong Ampang Gadang nagari Piobang. Namun tidak jauh dari simpang tersebut ada sebuah masjid raya yang bernama Masjid Raya Piobang. Ketika penulis coba untuk menanyakan usia masjid tersebut kepada bapak-bapak yang telah tua di sana, masjid ini diperkirakan sudah berumur lebih dari 300 tahun. Namun bangunan aslinya tidak ada lagi. Bangunan masjid ini yang aslinya dulu adalah berupa kayu dan sekarang hampir semuanya dari batu permanen.

Saya meneruskan perjalanan, nagari Piobang dipenuhi bukit-bukit dan perkebunan coklat, ubi dan lain-lain. Belum sampai satu KM perjalanan, saya menemukan sebuah simpang jalan tanah sebelah kanan menuju bekas bandara. Di sini dulunya adalah datasemen AURI yang dipimpin oleh Muhammad Jacoeb yang menjadi kepala Radio PHB AURI ZZ di Koto Tinggi untuk melayani PDRI.

Ada tiga lapangan bandara AURI di masa kemerdekaan di wilayah Sumatera Barat. Pertama ada di Tabiang Padang yang kedua ada di Gadut Bukittinggi dan yang ketiga ada di Piobang Limapuluh Kota. Bekas bandara itu pernah penulis kunjungi namun sekarang yang tinggal hanya berupa kebun singkong dan kebun jagung namun beberapa batang pohon pinus masih tetap berdiri sebagai saksi bisu dari perjalanan roda sejarah.

Piobang ini juga dulunya rute tempat disembunyikan sender radio alat perhubungan telekomunikasi dari incaran Belanda sebelum sampai di Koto Tinggi. Mulanya radio AURI ini pernah dioperasikan di Sungai Rimbang sebelum agresi milter belanda yang kedua namun akhirnya dibawa kembali ke Gadut dan setelahnya dibawa ke Koto Tinggi melayani Moh. Rasyid  Koto Tinggi di jorong Kampung Melayu. Karena frekwensi radio ini bisa terdeteksi keberadaannya oleh Belanda, maka sender tersebut dipindahkan ke Puar Datar. Dan pada tanggal 10 Januari 949 Belanda sampai di Puar Datar dan hampir nyaris menemukan sender radio di dekat kandang sapi yang tidak beberapa langkah dari kaki Belanda. Dan setelah itu Radio tersebut dibawa ke Padang Jungkek sekitar 12 Januari 1949 dengaan mobil yang yang didorong karena bannya yang bocor.

Setelah melewati simpang bekas lapangan terbang AURI, tidak berapa jauh saya menemukan sebuah kolam besar yang ada masjid dipinggirnya di jorong Ampang Gadang. Ada banyak orang yang duduk melepas lelah jika hari telah sore di tepi kolam besar ini. Terkadang ada juga membawa cemilan dan kacang-kacangan yang disukai oleh ikan.

Setelah melewati Ampang Gadang, di ujung jalan ada sebuah simpang Bukit Apik kalau ke kiri akan sampai ke Sariak Laweh dan ada juga ke Simpang Sugiran yang menuju ke Suayan yang dulunya merupakan jalan pintas ke kamang melintasi bukit dan sampai di Terusan Kamang dan lalu ke Gadut pada masanya. Dari Suayan ini nanti akan sampai ka Pauh Songik, Siamang Bunyi danada juga simpang ke kiri menuju Suliki danke kanan menuju Taratak dan Kubang lalu Jalan Tan Malaka di Talago. Namun saya berbelok ke kiri menuju Belubus.

Nagari Belubus ini sudah termasuk kecamatan Guguk namun nagari Piobang tadi merupakan bagian dari kecamatan Payakumbuh kabupaten Limapuluh Kota. Di Belubus ini terkenal dengan pertaniannya sebagai penghasil coklat terbaik. Ada banyak peneliti pertanian atau pun mahasiswa untuk studi banding ke sini untuk mempelajari bagaimana membudiyakan coklat yang berkualitas bagus.

Sebelum mencapai tempat budidaya coklat tersebut, saya menemukan sebuah jembatan. Hanya beberapa meter dari jembatan ini pada dulu masa PDRI, Belanda pernah menembaki beberapa orang gerilyawan di sini.

Di pendakian Belubus juga ini terdapat simpang dengan gang kecil menuju surau suluk tareqat naqsabandiyah. Dulu banyak orang belajar mengaji di sini dan pada bulan ramadhan cukup banyak yang mengikuti suluk di surau ini.

Tidak beberapa jauh meninggalkan pendakian ini, saya bertemu dengan simpang di sebelah kiri menuju Batu Manda. Lokasi batu Manda Manda ini terletak di atas bukit dengan sebuah batu yang unik setinggi kira-kira 3 meter dengan alasnya yang datar. Pada sore hari dan hari-hari libur banyak remaja dan masyarakat luar kota untuk datang ke tempat ini setidaknya untuk foto-foto yang sedang popular di media social seperti instagram.

Pemandangan di atas bukit ini sangat indah dan dibawahnya ada danau kecil yang sering dijadikan sebagai tempat mancing. Dan tempat ini sebenarnya bagus jika saja menyediakan dayung-dayung sampan di sini atau menjadikan tempat rumah pohon seperti yang ada di Tabek Patah Tanah Datar.

Setelah melewati simpang ke Batu Manda, tidak jauh juga dari sana juga terdapat situs cagar budaya berupa menhir yang letaknya di tepi jalan dengan diberi papan nama yang dapat dibaca dengan jelas. Lokasi situs cagar budayanyaterpelihara dengan baik dan bersih. Dan situ juga ada sebuah museum untuk menyimpan perkakas-perkakas kuno yang ditemukan. Dan semua itu terjaga dengan baik di museum nagari Belubus tersebut.

Saya terus menyusuri jalan tersebut yang tidak terlalu lebar namun cukup bagus dan rata hingga sampai di ujung jalan yang simpang di tengah ke kiri dan kanan. Di tengah simpang tersebut ada sebuah pohon yang terlihat unik di tengah-tengah jalan. Simpang ke kiri menuju Nagari Sungai Talang yang mana di sana juga terdapat banyak menhir-menhir yang dijaga dan dipelihara sebagai situs cagar budaya. Dan nagari Sungai talang ini juga terletak di kaki bukit.Sedangkan simpang ke kanan akan menuju arah Tiakar Guguk dan tembus di Jalan Tan Malaka. Tepat di ujung jalan ini juga ditemukan di sebelah kanan jalan Tan Malaka situs cagar budaya berupa menhir-menhir. Dan setelah melihat dan memotret beberapa menhir, saya pun terus menyusuri jalan Tan Malaka dengan tujuan Padang Japang.

Sesampainya di pasar Guguk, saya pun belok kiri menuju arah Mungka. Di sini jalannya bagus dan meski juga tidak terlalu lebar. Ada banyak ditemukan di sini peternakan ayam petelur yang luas. Dan memang kecamatan Mungka ini sebagai penghasil telur terbanyak di Kabupaten Limapuluh Kota.

Di ujung jalan ini akan bertemu persimpang kalau arah ke kanan menuju Taeh Baruah dan Simalanggang. Namun sebelum sampai di Taeh Baruah, ada nanti sebuah persimpangan belok kanan dan itu akan menuju kearah nagari Sungai Antuan. Dan nanti akan bertemu simpang maka kalau ke kiri akan menuju ke Lubuk Simato dan nagari Talang Maur namun kalau ke kanan akan sampai di nagari Simpang Kapuak dan di jorong Kubang Balambak akan ditemui sebuah air terjun yang bernama Lubuak Bulan. Dari jorong Kubang Balambak ini nanti kalau belok kiri akan menuju nagari Mahat dan butuh setengah hari berjalan kaki. Namun jika ke kanan nanti akan sampai di kecamatan Harau dan tembus di jalan Lintas Sumbar – Riau di Ulu Air.

Kembali lagi ke ujung dari Guguk ke Mungka yang bertemu persimpangan maka saya pun belok kiri menuju Jopang Manganti dan Padang Japang. Jalan-jalan ini sedikit rusak dan ketika sudah sampai di Jopang Manganti maka jalan pun sudah mulai membaik. Dari Jopang Manganti hingga ke Padang Japang jalannya cukup bagus. Hanya saja tidak ada drainase sehingga ketika hujan lebat, air hujan pun menumpuk di jalan dekat MAN Pandang Japang yang dalamnya hampir sebetis.

Tiba di Padang Japang dan Koto Kociak

Museum PDRI di Padang Japang

Museum PDRI di Padang Japang

Saya pun meneruskan perjalanan dan di sebelah kanan terlihat gerbang Perguruan Tinggi Darul Funum al-Abbasiyah” Padang Japang. Saya mencoba memasuki gerbang itu dan sekolahnya cukup jauh terletak di dalam. Lebuh kurang sekitar 300 meter dari jalan raya. Setiba di pekarangan Darul Funum, saya sudah melihat bangunan sekolah sudah terdiri dari batu dan sekolah pun sudah diubah menjadi setingkat tsanawiyah.

Saya pun kembali ke jalan raya dan meneruskan perjalanan dan tidak jauh perjalanan saya juga melihat gerbang masjid raya Padang Japang. Saya tidak mampir ke dalam namun terus menuju ke Tugu PDRI Padang Japang. Tugu tersebut terletak ketika saya menemui jalan bersimpang ke kiri dan kalau lurus akan menuju Koto Kociak. Namun saya pun belok kiri dan tidak jauh dari simpang tersebut saya telah menemukan Tugu PDRI yang terletak di sebelah kiri jalan.

Tugu PDRI di Padang Japang

Tugu PDRI di Padang Japang

Saya ingin melihat museum PDRI yang di dekat Tugu tersebut yang dulunya dijadikan sebagai tempat rapat oleh anggota PDRI dengan Rombongan Leimena. Namun saat itu saya belum menemukan kepada siapa yang bisa memenuhi keinginan tersebut. Lalu hari mulai hujan dan waktu ashar hampir masuk. Dan saya pun berjalan lurus menuju Ampang Gadang dan didekat penurunan ini saya temukan sebuah Madrasah yang telah berumur lama dan masih aktif sampai hari ini.

Dan setelah melewati penurunan ini di Ampang Gadang, maka di sebelah kiri jalan yang tertutup oleh rumpun bambu, di bawahnya terdapat pancuran mandi yang digunakan oleh rombongan PDRI dan Syafrudin prawiranegara yang tadi malamnya rapat semalam suntuk namun tidak menemui kesepakatan yang berupa bahwa Mr. Syafrudin Prawiranegara untuk bersedia mengembalikan mandat kepada Soekarno-Hatta di Yokyakarta. Namun dengan perbicangan yang tidak secara formal, Moh. Natsir dari utusan Delegasi Bangka berhasil membujuk Mr. Syafrudin Prawiranegara setelah mandi di pancuran tersebut.

Tempat Pancuran Mandi Pejabat PDRI di Ampang Gadang

Tempat Pancuran Mandi Pejabat PDRI di Ampang Gadang

Dari pendakian dekat rumpun bambu tersebut saya berjalan lurus hingga menemukan jalan bersimpang empat. Kalau ke kanan akan tiba di SMK/STM Guguk dan kalau lurus akan tiba di Jalan Tan Malaka di Talago. Lalu saya pun belok kiri menuju masjid yang terlihat menaranya sangat tinggi.

Sebelum sampai masjid tersebut, di sebelah kanan jalan ada terlihat beberapa menhir yang tegak dengan kokoh tanpa diberi papan nama. Dan setelah kembali dari masjid tersebut saya langsung ke Padang Japang untuk menanyakan kepada siapa sumber informasi tentang PDRI di Padang Japang ini dapat saya tanyakan. Dan warga yang tinggal di dekat itu menyarakan saya untuk menemui bapak Yan Abdullah di koto Kociak sekitar 2 Km dari tempat tersebut yang lokasinya sesudah masjid di Koto Kociak yang menaranya juga terlihat tinggi.

Jalan menuju ke Koto Kociak sangat bagus dan rata meski belum lebar. Dan setelah bertanya kepada warga yang sekitar areal masjid, saya pun menemukan rumah bapak Yan Abdullah. Namun sayang sekali bapak Yan Abdullah tidak berada di rumah. Lalu saya pun kembali ke Padang Japang dengan cuaca yang gerimis.

Sebelum sampai di Padang Japang, saya berhenti ketika melihat Tugu PDRI dan lapangan bola di Koto Kociak di sebelah kiri jalan dari arah Koto Kociak menuju Padang Japang. Dan di Tugu inilah dulunya Rombongan PDRI dan Rombongan Utusan Delegasi Bangka mengucapkan salam perpisahan kepada masyarakat nagari IIV Koto Talago. Setelah acara perpisahan dengan masyarakat Koto Kociak, Mr. Syafrudin kembali dibawa oleh Mr. moh. Rasyid ke Koto Tinggi berdasarkan makalah yang ditulis oleh Moh. Rasyid pada tahun 1989 di Jakarta. Dan pada tanggal 10 Juli 1949, Mr. Syafrudin Prawiranegara bersama Rombongan Dr. Leimena kembali ke Yokyakarta melalui bandara Udara Gadut Bukittinggi.

Monumen PDRI di Koto Kociak

Monumen PDRI di Koto Kociak

Mr. Syafrudin Prawiranegara sampai tanggal 10 Juli di Yokyakarta dan tanggal-tanggal 13 Juli sama-sama bertemu dengan Jenderal Sudirman untuk menyerahkan mandat yang acaranya dipimpin oleh Perdana Mentri Moh. Hatta. Dan itulah awal dan terakhirnya Syafrudin Prawiranegara bertemu dengan jenderal Sudirman, yang mana sebelumya selalu berkomunikasi melalui jaringan radio telekomunikasi dengan akrab dan hampir samase-ide dalam banyak hal.

Saya pun meneruskan perjalanan dan lalu saya pun tiba di Padang Japang di dekat persimpangan menuju Tugu tadi hujan pun mulai turun dengan lebatnya. Dan saya pun menumpang berteduh di sebuah bengkel yang tidak jauh dari simpang tersebut.Di bengkel tersebut ada seorang bapak pemilik bengkel dan seorang pemuda sekitar umur belum sampai 40 tahun yang sedang berbincang-bincang. Saya pun memperkanalkan diri dan mengatakan maksud dan tujuan ke Padang Japang. Lalu bapak-bapak tersebut menyarankan saya ke rumah ibu Reno Warni yang tidak terlalu jauh dari situ. Lalu saya pun berangkat ke rumah ibu Reno Warni di dalam hujan yang tidak terlalu lebat.

Sesampainya di rumah ibu Reno Warni saya bertemu dengan cucunya dan ia mengabarkan bahwa Ibu Reno Warni sedang berada di Jambi. Saya pun kembali ke tempat bengkel tersebut untuk berteduh dan tidak lama setelahnya saya pamit untuk pulang karena hari mulai senja.

Saya pulang melewati Jopang Manganti, Mungka melalui Lubuk Minturun hingga sampai di jalan Tan Malaka di Guguk. Dari Guguk saya terus ke Simalanggang, Lampasi, Napar hingga tiba di Pusat kota Payakumbuh.

Bertemu Adri Sandra di Padang Japang

Besok harinya tanggal 28 April saya kembali ke Padang Japang. Namun sebelum ke Padang Japang saya singgah dulu di Taeh Baruah jorong Parit Dalam untuk melihat Parade Chairil Anwar yang sangat meriah. Ada banyak pertunjukan seperti tari, pantomin, baca puisi dan lain-lain yang diikuti oleh siswa-siswi dari sekolah di Taeh Baruah. Acara ini juga diresmikan oleh Bupati Limapuluh Kota dan dihadiri oleh pejabat-pejabat Limapuluh Kota lainnya.

Dan setelah ashar saya menuju rumah bapak Yan Abdullah dan setiba di rumahnya saya disambut oleh istri bapak Yan Abdullah dengan baik. Dengan mengatakan maksud dan tujuan, saya ingin banyak bertanya kepada bapak Yan tentang segala informasi PDRI di nagari IIV Koto Talago ini. Dan saat itu saya belum bisa bertemu dengan bapak Yan Abdullah dan lalu saya menuju ke rumah Adri Sandra yang berada tidak jauh dari MAN Padang Japang.

Sesampainya saya di rumah Adri Sandra saya bertemu dengannya yang lagi sedang memperbaiki atap rumah bersama tukang. Saya dipersilahkan masuk dan memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan kedatangan. Lalu kami pun berbicara tentang sejarah yang ada di Padang Japang sampai waktu magrib telah dekat.

Dari pembicaraan dengan Adri Sandra saya mendapatkan banyak informasi bahwa dulunya tahun 1942 Soekarno pernah mendatangi perguruan Tinggi Darul Funun el-Abbasiyah untuk menemui Syech Abbas Abdullah untuk meminta pendapat bagaimana nantinya bentuk Negara ini nantinya diciptakan.

Dari pertemuan tersebut Syech Abbas Abdullah menyarankan untuk menjadikan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai salah satu dasar negara. Dan sebagai dari kenang-kenangan, Syech Abbas Abdullah memberikan sebuah kopiah kepada Soekarno untuk mengganti kopiahnya yang telah usang dan pendek diganti model yang lebih panjang ke atas dan cocok sekali dengan wajah Soekarno. Dan tidak beberapa jam lamanya Soekarno di Padang Japang, beliau beserta istrinya Ibu Inggit dan seorang anak angkat meninggalkan Padang Japang.

Dan dari pembicaraan ini saya juga mendapatkan informasi bahwa rapat anggota PDRI dengan Rombongan Leimena yang ditugaskan Hatta melakukan rapat di rumah Jawanis yang telah menjadi istri Moh. Yunus. Dan di sini juga saya mengetahui bahwa tempat mandi pincuran di Ampang Gadang tempat mandinya Mr. Syafrudin Prawiranegara dan Moh. Natsir beserta pejabat PDRI lainnya yang memunculkan kesediaan Mr. Syafrudin menyerahkan mandat ke Soekarno-Hatta di Yokyakarta adalah lokasi pemandian tersebut dimiliki oleh ayahnya Adri Sandra yang bernama Hasan Jafar. Adri Sandra merupakan penyair dan sastrawan yang sudah tiga kali tercatat sebagai rekor MURI di bidang sastra sebagai buku puisi terpanjang yang berasal dari Padang Japang Kabupaten Limapuluh Kota.

Hari pun sudah dekat ke magrib lalu saya pun pamit dan mohon diri. Setelah magrib saya terus ke jorong Parit Dalam nagari Taeh Baruah untuk melanjutkan tontonan acara Parade Chairil Anwar. Di sana sedang dimulai acara baca puisi yang diiringi instrument musik dari seniman-seniman Komunitas Seni INTRO Payakumbuh. Dan setelah itu ada sebuah pantomin yang cukup menarik dan menghibur. Dan setelah itu isya telah masuk saya meninggalkan acara tersebut lalu pulang ke rumah.

Bertemu Bapak Yan Abdullah di Koto Kociak

Setelah zhuhur saya berangkat ke Koto Kociak menuju jalan Tan Malaka hingga belok kanan menuju ke Talago dan tembus di Padang Japang. Lalu saya pun belok kiri menuju Koto Kociak dan langsung ke rumah bapak Yan Abdullah. Dan di sana beliau sudah menanti saya dan perjalanan saya tadi sekitar 30 menit menunggunakan motor dan waktu menunjukkan sekitar pukul 13.30 WIB.

Pembicaraan kami dimulai dari kedatangan Soekarno di Padang Japang bahwa saat itu pendudukan Jepang di Indonesia telah berakhir di tahun 1942 dan saat itu Soekarno yang dibuang ke Bengkulu pun dibebaskan oleh Belanda. Dan Soekarno pun diantar oleh Belanda melalui kapal hendak menuju Padang. Namun setiba di Muko-muko Pesisir Selatan, kapal Belanda rusak maka Soekarno beserta istri dan seorang anak angkatnya menempuh perjalanan darat ke Padang dengan menggunakan pedati.

Setiba di Padang Soekarno disambut oleh gerilyawan dan diberikan baju yang baru. Dan setelahnya Soekarno melanjutkan perjalanan ke Padangpanjang dan bertemu dengan Syekh Sanusi el-Labay. Namun Syekh Labay menyarakan kepada Soekarno untuk mengunjungi Syekh Abbas Abdullah di Perguruan Tinggi Darul Funnum Padang Japang.

Awal dari Perguruan Tinggi Darul Funnum ini telah berdiri pada tahun 1875 dan telah menjadi pelopor pendidikan modern di Indonesia dengan meniru konsep pendidikan Al Azhar Mesir. Sebagaimana diketahui Syekh Abbas pada usia 7 tahun telah belajar ilmu agama ke Pandam Gadang. Dan pada usia 13 tahun ia berangkat ke Mekah dan menuntut ilmu di sana. Pada usia 19 tahun ia ke Mesir dan menghadiri halaqah-halaqah majelis ilmu di Al –Azhar dan bertemu dengan Muhammad Yunus yang kemudian hari menjadi staf mentri Agama dan Pendidikan di kementrian PDRI. Dan setelah dari Mesir, Syekh Abbas berpetualang ke Eropa dan ke Pulau Jawa lalu akhirnya pulang ke Padang Japang untuk mengembangkan pendidikan bersama adiknya Syekh Mustafa Abdullah di Perguruan Tinggi Darul Funnum el-Abbasiyah.

Perguruan Darul Funnum pada masanya merupakan sekolah paling dikenal pada zamannya. Perguruan ini memiliki murid hingga mencapai 4000 santri dengan penampilan modern seperti memakai jas, seragam yang mana santrinya berasal hingga sampai dari Malaysia, Singapura, Brunai Darusallam dan Sumatera Tengah pada umumnya. Dan untuk santri perempuan dinamakan dengan Nahdatun Nisaiyah yang lokasinya tidak jauh dari Darul Funnum. Namun Nahdatun Nisaiyah ini model sekolah wanita pertama di Indonesia dan diduplikatnya sekarang ini adalah sekolah Diniyah Putri di kota Padangpanjang.

Nahdatun Nisaiyah dan Darul Funnum  serta rumah-rumah penduduk di sekitarnya pernah menjadi basis benteng pertahanan PDRI pada masanya. Dan Darul Funun pun sempat dijadikan sebagai kantor Wakil ketua PDRI oleh Mr. Tengku Moh. Hassan. Bahkan pada masa pendudukan Jepang, Syekh Abbas memberikan fatwa kepada penduduk dan santri untuk membolehkan ikut pelatihan militer yang diadakan oleh Jepang. Karena dengan ilmu militer tersebut, dikemudian hari digunakan oleh masyarakat PadangJapang atau pun rakyat Sumatera Tengah umumnya untuk kembali melawan Jepang atau pun Belanda. Dan Syekh Abbas Abdullah pun pada masa kemerdekaan tersebut digelari sebagai Imam Jihad.

Peristiwa Singkat Tentang PDRI

Pembicaraan kami pun berlanjut kepada sebelum ada peristiwa PDRI, kantor Wakil Presiden Moh. Hatta di Bukittinggi terdiri dari staff mentri:

– Mr.Syafruddin Prawiranegara (Menteri Kemakmuran)

– Lukman Hakim (Komisaris Negara Urusan Keuangan)

– Ir. Mananti Sitompul (Pegawai Tinggi Jawatan Pekerjaan Umum)

Dan ketika pada pagi hari tanggal 19 Desember 1948 Yokyakarta telah diduduki oleh Belanda dan dibombardir melalui serangan udara. Para pejuang pun seperti Jenderal Sudirman dari angkatan darat mengajak Soekarno – Hatta untuk bergerilya untuk melawan Belanda, namun Presiden beserta staff kabinetnya di Yokyakarta lebih memilih untuk tetap di istana dan menyerahkan diri ditangkap Belanda.

Sebelum Soekarno – Hatta ditangkap Belanda dan dibuang ke Bangka, Soekaro- Hatta mengirimkan surat kawat kepada Mr. Syafrudin Prawiranegara yang sedang berada di Bukittinggi yang menjabat sebagai menteri Kemakmuran agar dapat menjalankan Pemerintahan Darurat jika sekiranya pemerintah tidak dapat lagi menjalankan kewajibannya. Ada pun sebuah lagi berita kawat kepada Mr. A.A. Maramis dan Palar serta Dr. Soedarsono yang sedang berada di India untuk membentuk exile government jika seandainya iktiar Mr. Syafrudin Prawiranegara gagal dilakukan dikirimkan oleh Moh. Hata sebagai Wakil Presiden dan Agus Salim sebagai menteri luar negeri.

Meski pesan kawat yang dikirimkan dari Yokyakarta tidak pernah diterima oleh Mr. Syafrudin Prawiranegara di Bukitting karena kemungkinan kantor dan alat komunikasi telah dikuasai Belanda, maka atas inisiatif pejabat pemerintahan di Bukittinggi untuk segera melakukan rapat darurat. Bahkan Kolenel Hidayat mendesak Mr. Syafrudin Prawiranegara membentuk Pemerintahan Darurat yang juga didukung oleh Mr. Tengku Muhammad Hasan dll yang saat itu dicetuskan pada kantor Wakil Presiden Mohamad Hatta di Bukittinggi (kantor Tri Arga) atau Museum Moh. Hatta sekarang. Dan karena serangan udara Belanda masih tetap berlangsung, maka rapat pun di hentikan dan dilanjutkan pada sore harinya di rumahMr. Tengku Mohammad Hasan di jalan Atas Ngarai, Bukittinggi. Ada pun peserta rapat itu adalah:

– Mr. Syafrudin Prawiranegara

– Mr. Teuku Muhammad Hasan

– Mr. Lukman Hakim

– Kolonel Hidayat

– Kapten Islam Salim

– Sulaiman Effendi

– Kombes Pol. Umar Sahid

– Mr. Muhammad Nasroen

Hasil rapat di rumah Mr. Tengku Moh. Hassan menghasilkan ketetapan bahwa iniasiatif untuk membetuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Dan pemikiran pemerintah yang ada di Yokyakarta sangat sejalan dengan pemerintah di Bukittinggi meski surat kawat dari Yokyakarta tidak pernah sampai ke Bukittinggi.

Pada malam harinya sekitar pukul 21.00 WIB, Mr. Syafrudin Prawiranegara sebagai ketua PDRI bermigrasi ke sebuah kebun teh di Halaban yang terletak lebih kurang 20 KM dari pusat kota Payakumbuh. Perjalanan itu menempuh rute jalan Lintas Bukittinggi – Payakumbuh dan dari Payakumbuh ke terus ke Halaban menuju jalan Lintas Payakumbuh – Lintau. Dan kepala Onderneming of Halaban (Perkebunan Teh Halaban) saat itu adalah Joyo Suparto dan Walinagari: Nurman Dt. Bagindo Nan Bapaluak.

Rombongan Syafrudin Prawiranegara tiba di Parak Lubang Halaban tiba dini hari pada tangal 20 Desember 1948. Dan selagi menunggu Moh. Rasyid selaku Gubernur Sumatera Tengah saat itu yang berada di Pariaman, Mr. Syafrudin Prawiranegara sering mengadakan rapat di Parak Lubang Halaban

Pada tanggal 22 Desember 1948 kementrian PDRI terbentuk di Halaban dengan susunan sebagai berikut:

– Ketua: Mr. Syafruddin Prawiranegara, merangkap Menteri Pertahanan, Penerangan dan Luar negeri ad interim.

– Wakil Ketua : Mr.T.M. Hasan, merangkap Menteri Dalam Negeri, Pendidikan & Kebudayaan dan Agama.

– Mr. S.M Rasyid : Menteri Keamanan merangkap Menteri Sosial, Pembangunan, Pemuda dan Perburuhan.

– M.r. Lukman Hakim : Menteri Keuangan merangkap Menteri Kahakiman.

– Ir. Mananti Sitompul : Menteri Pekerjaan Umum merangkap Menteri Kesehatan.

– Ir. Indratjaja : sebagai Menteri Perhubungan merangkap Menteri Kemakmuran.

– Mardjono Danubroto: Sekretaris PDRI ditunjuk.

– Kolonel Hidayat: Panglima Tentara Teritorial Sumatera (PTTS)

– Kolonel Nazir: Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL)

– Kolonel H Sujono: Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU)

– Komisaris Besar Umar Said: Kepala Jawatan Kepolisian Negara.

-Yang hadir lainnya diangkat sebagai Anggota Staf PDRI.”

Dan pada tanggal 22 Desember 1948 pada menjelang shubuh, maka kabinet PDRI pun diresmikan di Parak Lubang. Dan pada tanggal 23 Desemebr 1948 Kabinet PDRI disiarkan melalui radio PHB AURI UDO. Pada siaran tersebut Mr. Syafrudin berpidato bahwa:

“Belanda menyerang pada saat Negara kita baru saja mengatasi ujian yang berat sekali, pada saat kita baru saja dapat memadamkan suatu pemberontakan yang telah banyak sekali meminta korban dari rakyat, sehingga melemahkan keadaan Negara, baik ekonomi maupun militer.

 Mungkin sekali karena serangannya yang tiba-tiba itu mereka telah berhasil menawan Presiden dan Wakil Presiden, Perdana mentri dan pembesar lain. Dengan demikian mereka menduga menghadapi keadaan Negara republic Indonesia yang dapat disamakan dengan Belanda sendiri. Pada suatu saat, ketika rakyatnya redeloos (putus-asa), pemimpinnya redeloos (kehilangan akal) dan negaranya redeloos (tidak dapat ditolong lagi) tetapi kita membuktikan bahwa perhitungan Belanda itu sama sekali meleset. Belanda mengira bahwa dengan ditawannya pemimpin-pemimpin kita yang tertinggi, pemimpin-pemimpin lain akan putus asa.

 Negara Republik Indonesia tidak tergantung kepada Soekarno-Hatta, sekalipun kedua pemimpin itu adalah sangat berharga bagi bangsa kita. Patah tumbuh hilang berganti. Hilang pemerintah Soekrno-Hatta, sementara atau selama-lamanya, rakyat Indonesia akan mendirikan pemerintah yang baru. Hilang pemerintah ini akan timbul yang baru lagi.

 Pemeintah sekarang ini dibentuk karena ada kemungkinan yang besar vahwa pemerintah Soekarno-hatta tidak dapat menjalankan tugasnya seperti biasa. Oleh karena itu, segera dibentuk suatu pemerintahan baru untuk menghilangkan keragu-raguan baik ke dalam maupun ke luar. Pemerintah sekarang akan menyerahkan kekuasaannya sesudah pemerintah yang dipimpin oleh Presiden dan Wakil Presiden kita nyata sudah bebas kembali.

 Kepada seluruh Angkatan perang Republik Indonesia kami serukan: bertempurlah, gempurlah Belanda di mana saja dan dengan apa saja mereka dapat dibasmi. Jangan meletakkan senjata, menghentikan tembak-menembak kalau belum ada perintah dari pemerintahan yang kami pimpin. Camkanlah hal ini untuk menghindarkan tipu-tipuan muslihat musuh.

Pancaran Radio PHB UDO tersebut tidak diketahui sejauh mana dapat ditangkap oleh radio PHB lainnya namun pidato tersebut berhasil disadap oleh radio Singapura dan radio Belanda di daerah Riau. Dan pada hari itu juga Kabinet PDRI terpaksa meninggalkan Halaban karena Belanda telah sampai di Bukittinggi pada tanggal 22 Desember dan pada hari itu juga sedang menuju Payakumbuh.Rombongan PDRI dipecah menjadi tiga yaitu Rombongan Mr. Syafrudin Prawiranegara menuju Bangkinang dan rombongan Mr. Moh. Rasyid menuju Koto Tinggi sedangkan Mr. Nasroen menuju Lubuk Sikaping yang menjabat sebagai Gubernur Sumatera Barat.

Pada tanggal 24 Desember ini, Moh. Rasyid sebagai Gubernur Sumatera Tengah dan rombongannya memilih untuk berkantor di Koto Tinggi. Dan beliau diperkirakan menempuh rute melalui Piobang dan lalu singgah ke Padang Japang terus ke Limbanang dan menuju ke Sungai Rimbang dan terus ke Kampung Melayu di Koto Tinggi. Meski kantor Gubernur Sumatera Tengah ada di kampung Melayu Koto Tinggi, namun Moh. Rasyid lebih banyak berkerja di Kampung Pitopang Koto Tinggi di rumah penduduk yang bernama KIMA. Dan staff kementrian lain seperti di rumah Rahana, Zaniar, dll.

Jika Moh. Rasyid menuju Koto Tinggi maka rombongan PDRI Syafrudin Prawiranegara menuju Pekanbaru, melaui Lubuk Bangku, Muaro Mahat dan Bangkinang. Rombongan tiba pada tanggal 25 Desemebr sore hari pada pukul 17.00 WIB dan menginap di rumah wedana Bangkinang. Dan esok harinya tanggal 26 Desember Belanda membombardir tempat itu  sehingga rombongan PDRI terpaksa meninggalakan Bangkinang. Setalah dari Bangkinang, perjalanan diteruskan ke Taratak Buluh, Sungai Pagar, Lipat Kain, Muaro Lembu, dan Teluk Kuantan. Ketika berada di Taratak Buluh, sedan milik Tengku Moh. Hasan ditenggelamkan di Batang Kampar. Dan ketika berada di Muaro Lembu, Jeep yang ditumpangi oleh Mr. Syafrudin Prawinegara terbalik dan kacamatanya pecah. Dan ia mendapatkan pengganti kacamatanya dari salah seorang dokter yang bertugas ditempat itu.

Setiba di Teluk Kuantan, keberadaan Syafrudin Prawiranegara dan rombongan PDRI telah tercium oleh Belanda. Belanda pun membombardir tempat itu pada pukul 12.00 WIB dan lalu rombongan menginap di Taluak di tepian Batang Kuantan selama dua hari. Dan pada tanggal 30 Desember, rombongan PDRI melanjutkan perjalanan ke Kiliran Jao dengan berjalan kaki. Mentri perhubungan, Indracahya menaiki bekas lori rel kereta api jepang bersama salah seorang awak radio untuk membawa peralatan radio PHB. Jalan hutan yang dilalui oleh rombongan PDRI yaitu melewati daerah Batang Kariang, Kiliran Jao (Kabupaten Sijunjung) dan menetap selama 2 hari di Sungai Dareh (Pulau Punjung/Kabupaten Dharmasraya) dan merayakan tahun baru di sini.

Setelah dari Pulau Punjung, rombongan terpecah menjadi tiga. Rombongan Tengku Moh. Hasan melewati jalan darat karena membawa sender Radio AURI “UDO” . Lalu rombongan lainnya ke Muaro Bungo untuk menjemput alat percetakan uang URIPS yag telah dimodifikasi. Dan rombongan Mr. Syafrudin Prawiranegara melewati jalan sungai yaitu Sungai Dareh atau Batanghari. Adapun daerah yang dilewati melalui sungai adalah Pulau Gadang, Pulau Panjang, Batu Gajah, Pulau Serang, Dusun Tongah dan berhenti sekitar 2 minggu di Abai Sangir untuk menunggu rombongan dari Muaro Bungo dan perjalanan darat yang membawa sender.

Setelah dari Abai Sangir, rombongan PDRI dijemput oleh utusan Bidar Alam supaya pejabat PDRI dipindahkan ke Bidar Alam yang lebih jauh dari jangkauan Belanda. Di Bidar Alam selama lebih kurang 3 bulan lalu rombongan PDRI berangkat ke Calau Sumpur Kudus pada pertengahan April 1949. Dan tiba di Calau tanggal 25 April 1949 dan berngkat ke Silantai Sumpur Kudus pada tanggal 9 Mei 1949 untuk mengadakan rapat di Silantai Sumpur Kudus pada 14-17 Mei 1949 yang rapatnya berisi tanggapan atas Roem-Royen Statement yang dilakukan oleh delegasi Bangka.

Perjalanan dai Bidar Alam menuju Sumpur Kudus melalui perjalanan Sungai yaitu Batang Sangir hingga Sungai Dareh (Batang Hari)  lalu menempuh perjalan darat yang melewati Kiliran Jao, Kamang, Meloro. Dan sesudahnya menmpuh perjalanan sungai yaitu Sungai Batang, Pintu Batu, Padang Tarok, Tapui, Durian Gadang, Manganti dan Calau Sumpur Kudus.

Rombongan Mr. Syafrudin Prawiranegara tiba Calau secara lengkap pada tanggal 5 Mei 1949. Di Calau bermukin selama 4 hari di rumah orang tua Buya Syafii Maarifdan Halifah. Dan pada tanggal 9 Mei 1949 berangkat ke Silantai menuju rumah wali perang yang bernama Hasan Basri.

Rapat di Silantai dilakukan pada tanggal 14 – 17 Mei 1949 dan mulai pada tanggal 19 Mei 1949 rombongan Moh. Raysid kembali ke Koto Tinggi melalui Unggan terus ke Halaban dan lalu melanjutkan ke Koto Tinggi. Sedangkan Mr. Syafrudin Prawiranegara tetap menetap di Silantai sampai tanggal 19 Juni 1949 dan beliau mengisi aktifitasnya menulis buku yang berjudul ISLAM DALAM PERGOLAKAN DUNIA. Selama di Sulantai, Mr. Syafrudin tetap melakukan perjalanan ke Halaban dan Ampalu untuk beberapa hari saja.

Menurut Bapak Irianes selaku anak dari wali perang Hasan Basri dan juga penjaga rumah yang ditempat Mr. Syafrudin Prawiranegara dan juga tempat rapat PDRI yang telah dijadikan situs cagar budaya mengatakan bahwa Mr. Syafrudin Prawiranegara meninggalkan Silantai bersama 2 orang mentri kabiet, 2 orang pengawal dan seorang anggota pemancar Radio AURI. Dan ada pun 2 orang nama mentri kabinet, 2 pengawal dan seorang anggota pemancar Radio AURI belum penulis ketahui sepenuhnya.

Dan rute perjalanannya menurut Bapak Irianes, adalah dari Silantai terus ke Tanjung Bonai Aur dan terus Ampalu Halaban. Dan keberadaan Mr. Syafrudin Prawiranegara baru diketahui kembali setelah tanggal 1 Juli dengan diadakannya rapat di Sungai Naniang untuk memusyawarahkan kedatangan Rombongan Leimena sebagai ketua bersama Moh. Natsir, A. Halim dan Agus Jamal sebagai sekretaris yang diutus oleh Moh. Hata agar bersedia menyerakan mandat kepada Soekarno – Hatta di Yokyakarta. Rombongan PDRI saat itu menyingkir ke Sunggai Naniang disebabkan juga karena Belanda telah memasuki Koto Tinggi dan Kabinet PDRI pun menyingkir ke Sungai Naniang dan Baruah Gunuang.

Dan pada tanggal 6 Juli 1949, Mr. Syafrudin kembali diketahui keberadaannya di Koto Tinggi dengan menunggangi kuda putih menuju Padang Japang untuk mengadakan rapat dengan Rombongan Leimena yang juga tiba di hari itu dan mengadakan rapat pada malamnya sesudah isya hingga menjelang shubuh dengan hasil yang buntu.

Ada pun tujuan rapat tersebut dilakukan adalah tidak lain agar Mr. Syafrudin Prawiranegara dan kabinetnya untuk bersedia menyerakan mandat kekuasaan kepada Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Dan kebuntuan itu pun mencair setelah Moh. Natsir membujuk-bujuk Mr. Syafrudin Prawiranegara untuk mengembalikan mandat. Mr. Sjafrudin Prawiranegara pun selaku ketua PDRI hatinya luluh demi keutuhan dan kesatuan NKRI.

Dan pada besok harinya, tanggal 8 Juli 1949 romongan Leimena pun dan Mr. Syafrudin Prawiranegara mengadakan acara perpisahan kepada masyarakat nagari IIV Koto Talago di jorong Koto Kociak kabupaten Limapuluh kota. Dan rombongan tersebut berangkat ke Pulau Jawa di pangkalan udara Gadut Bukittinggi pada tanggal 10 Juli 1949.

Setelah Mr. Syafrudin Prawiranegara sampai di Yokyakarta yang disambut oleh Moh. Hatta, Sultan Hamengkubuwono IX, Moh. Roem, Mr. Tadjudin Noor, Ki Hajar Dewantara, dan jenderal Sudirman pun keluar dari persembunyiannya di Wonosari pada tanggal 7 Juli untuk menemui Mr. Syafrudin Prawiranegara. Inilah hubungan yang unik, mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, namun memiliki arah pemikiran yang sama dan satu jiwa dan sevisi dan saling menjalin berkomunikasi melalui alat telekomuniasi radio. Dan pada tanggal 13 Juli 1949, Mr. Syafrudin Prawiranegara secara resmi menyerahkan mandat kekuasaan dalam sebuah siding yang dipimpin oleh Perdana Mentri Moh. Hatta. Dan sampai disini, berakhirlah masa PDRI.

Bertemu dengan Bapak Kamardi

Saat itu saya sedang mencari informasi PDRI dan banyak orang menyarankan saya untuk menumui Bapak Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan. Setelah saya mencari akun facebook beliau, lalu saya mengirimkan pesan tentang niat saya yang sedang mencari informasi PDRI. Bapak Ferizal menyarankan saya untuk menemui veteran Bapak Kamardi yang tinggal di Tanjuang Pauah.

Hari berikutnya saya pergi ke Tanjuang Pauah untuk menemui Bapak Kamardi. Beliau sangat ramah dan semangatnya luar biasa. Beliau duduk di kursi roda dan bercerita dengan semangat. Lahir di koto Kociak pada 17 Agustus tahun 1933 atau biasa juga dipanggil dengan “Gaek Lamo”.

Ketika terjadi agresi militer Belanda yang kedua tanggal 19 Desember 1948, bapak Kamarudin masih remaja. Di saat itu ia sedang di pasar Payakumbuh dan pesawat Belanda menembak dua bus yang satu di Piladang dan yang satu lagi di Air Tabit dengan jumlah korban jiwa sekitar 30 orang.

Pada masa agresi tersebut, sekolah diliburkan dan Bapak Kamardi menjadi tentara semut atau tentara cilik yang ditugaskan sebagai pengantar surat atau pesan kepada BPNK atau wali perang bahkan memeriksa orang baru yang tak dikenal memasuki kampung.

Pernah suatu kali Buya Hamka mencari masjid untuk menjadi khatib di sebuah masjid di Koto Kociak. Dan Buya pun bertanya kepada tentara semut tersebut termasuk Kamardi kecil, karena tentara semut tidak mengetahui itu adalah Buya Hamka, maka mereka menangkap dan mengikat Buya Hamka di pos ronda. Karena waktu shalat jumat telah masuk sedangkan Buya Hamka belum tiba maka Wali Perang pun mencari dan menanyakan kepada tentara semut. Lalu Buya Hamka pun bersuara karena ada yang mencarinya. Melihat Buya diikat, akhirnya wali perang menyuruh melepaskan dan memberitahukan bahwa yang mereka ikat adalah Buya Hamka. Lalu pasukan semut itu pun sekitar 13 orang di hukum membersihkan sekeliling pos ronda.

Dari Bapak Kamarudin saya juga mendapatkan informasi bahwa di nagari IIV Koto Talago tersebut terdapat sebuah radio dan saya belum mengetahui apa type dari radio tersebut. Dan dari memoar Moh. Hasan, beliau mentitipkan keluarganya bersama Syekh Abbas Abdullah dan ternyata keluarga Moh. Rasyid juga dititipkan di Padang Japang ini setelah mengungsi dari Baruah Gunuang karena dibombardir oleh Belanda.

Dari keterangan bapak Kamarudin, beliau juga ikut mempersiapkan peralatan-peralatan dalam acara Perpisahan Pejabat PDRI dan Rombongan Leimena bersama masyarakat IIV Koto Talago di lapangan bola Koto Kociak. Sampai sekarang lapangan bola itu masih ada dan di sebelah kirinya dibangun sebuah tugu PDRI. Di lapanan bola tersebut Mr. Syafrudin berpidato bahwa:

“Waktu mendirikan PDRI kita bukan merebut pangkat dan kursi karena kita sering duduk di atas lantai saja. Kita tidak puas dengan pesetujuan Roem-Royen, persetujuan yang dibuat oleh Presiden dan wakil Presiden dengan memandang sepi PDRI. Tetapi bagi kita semua itu tidak kita persoalkan karena yang penting adalah kejujuran dan keselamatan rakyat. Siapa yang jujur kepada rakyat dan kepada Tuhan, perjuangannya akan berhasil dan selamat.

 ………

Sekiranya perstujuan yang dicapai sejalan dengan tujuan perjuangan kita maka kita mau menerimnya, jika tidak saya akan kembali bergabung dengan Saudara-saudara.”

Serta dr. Leimena pun juga ikut berbicara dalam pertemuan tersebuta yang menjadi utusan dari Moh. Hatta. Di antara cuplikan pidatonya sebagai berikut:

“Tuhan telah memberikan kesempatan kepada kita datang kemari dan bertemu dengan Saudara-saudara. Dan kita dapati semua anggota PDRI berada dalam keadaan sehat wal’afiat bahkan lebih sehat daripada kita sendiri suatu tanda bahwa PDRI berada dalam daerah yang istimewa.”

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

HP/WA 081267727161

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *