PDRI DI SUMPUR KUDUS DAN SILANTAI

Perjalanan ke Sumpur Kudus

Saat itu sekitar pertengahan bulan Mei menjelang bulan puasa. Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 6.30 WIB. Jalanan sepi dan udara masih dingin. Saya menyusuri jalan RKY. Rasuna Said dan terus menuju jalan Ahamd Yani ke arah Lintau.

Saya melewati nagari Andaleh, Mungo, Labuah Gunung yang sangat berkabut oleh embun, saya terus memasuki Tanjuang Gadang, Halaban dan Lintau. Di perbatasan antara Lintau dan Halaban ini bernama Pauah Tinggi yang termasuk dalam kenagarian Tanjung Bonai Kecamatan Lintau Buo Utara pernah menjadi tempat persembunyian radio PTT YBJ 6 yang diungsikan dari Bukittinggi dipimpin oleh Ardiwinata. Rencana semula radio ini untuk melayani pejabat PDRI, tetapi rombongan PDRI telah berangkat ke Bangkinang dan Payakumbuh telah diduduki oleh Belanda. Karena hal itu tidak lagi memungkinkan maka radio YBJ 6 dibawa ke Bodi Balai Tangah Lintau yang tidak begitu jauh dari pasar Lintau saat ini.

Jalanan dari Pauah Tinggi ini sangat bagus yang terletak di lereng Gunung Sago dan pagi pun semakin dingin melewati daerah ini. Dan jarak antara Halaban ke Pasar Lintau sekitar 15 km dengan menemukan simpang tiga. Belok ke kanan akan menuju Batusangkar dan ke kiri akan menuju Sijunjung dan Sumpur Kudus.

Tidak dari pasar Lintau akan bertemu dengan sebuah masjid raya di sisi kiri jalan. Di halaman masjid ada kolam ikan yang besar. Dan ketika sore hari akan menjadi pemandangan yang menajubkan melihat pengelolanya memberi pakan untuk ikan-ikan di kolam itu. Dan setelah masjid tersebut saya pun tiba di nagari Lubuk Jantan.

Di Lubuk Jantan ini ada rumah Tuanku Nan Lintau, kubur serta suraunya. Dan di dekat kantor Wali Nagari ada sebuah rumah adat lama yang tidak dihuni lagi yang dulunya rumah Siti Hajir yang menjadi pahlawan wanita dari Lintau melawan penjajahan Belanda. Selain Siti Hajar pada masanya ada juga Tuanku Larehserta Tuanku Amir di Lareh Aie.

Setelah melewati Lubuk Jantan akan tiba di Buo, di sini pernah berdiri istana Rajo Adat dan juga kuburan Rajo Adat yang telah dijadikan cagar situs budaya. Di sini dulunya pernah berkuasa Rajo Adat dari Rajo Tigo Selo yang merupakan Limbago Rajo di Minangkabau. Yang mana Rajo Alam berkedudukan di Pagaruyung dan Rajo Adat di Lintau serta Rajo Ibadat di Sumpur Kudus.

Lintau ini pada dulunya juga pernah sebagai basis perjuangan oleh pasukan Padri yang dimpin oleh Tuanku Lintau. Dan kecamatan Lintau ini berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Tanah Datar. Daerah yang cukup dingin dan daerah perlintasan yang sangat strategis antara ke Payakumbuh, Bukittinggi, Batusangkar atau pun ke Sijunjung.

Saya terus menembus kecamatan Lintau dan setelah melewati Sitangkai, jalanan sudah mulai lebar dan rata hingga terus memasuki gerbang kabupaten Sijunjung. Sepanjang perjalanan, daerah Lintau banyak dipebuhi perbukitan dan kebun-kebun karet, sayuran dan persawahan. Dan ketika memasuki daerah Sijunjung, umunnya banyak terlihat perkebunan karet.

Saya memasuki Sumpur Kudus dari simpang Kumanis. Dan Kumanis ini adalah ibukota kecamatan dari Sumpur Kudus. Jalanan tidak lebar tetapi cukup rata. Di kecamatan Sumpur Kudus ini aliran listrik sejak tahun 2005 disusul dengan pengaspalan jalan setahun setelah itu didirikan tower untuk menangkap sinyal provider telepon genggam. Dan sekarang Sumpur Kudus telah terhubung dengan dunia luar, yang mana sebelumnya, daerah ini bagaikan tersembunyi dari hiruk-pikuk geliat zaman yang terus melesat.

Dari Kumanis ini ke nagari Sumpur Kudus sekitar 30 Km, sama seperti jarak kota Payakumbuh dengan kota Bukittinggi. Sumpur Kudus ini terletak seperti sebuah ceruk yang tersembunyi di pedalaman. Jalanan dengan medan jalan yang berada di perbukitan dan Sumpur Kudus ini diapit oleh Bukit Barisan Timur dan Bukit Barisan Barat. Dan wilayah ini benar-benar seperti terisolasi dan terkukung dari dunia luar. Tapi untunglah setelah Buya Syaffi Maarif yang berkampung halaman dari sini, yang mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu,bersinergi dengan berbagai kalangan elit politik di negeri ini, akhirnya para petinggi Negara ini tergugah dengan keberadaan Sumpur Kudus dalam jasanya mempertahankan NKRI melalui peristiwa PDRI di Sumpur Kudus untuk memperbaiki insfratuktur jalan, listrik dan telekomunikasi untuk bisa merambah ke wilayah ini.

Padahal sebelum adanya pengaspalan jalan, masyarakat yang hendak dari Sumpur Kudus ke Kumanis harus melewati jalan kaki dan membutuhkan waktu hampir 2 hari untuk perjalanan bolak-balik. Bahkan di tahun 1980-an masih ditemukan juga kuda beban untuk membawa barang-barang belanja dari Kumanis ke Sumpur Kudus.

Saya tidak begitu ingat beberapa nama nagari yang saya lewati untuk sampai ke Sumpur Kudus. Namun saat di Kumanis, saya melihat adanya cukup perkantoran seperti kantor polsek, kantor camat, pasar kumanis dan lain-lain. Dan tidak jauh dari situ, saya menemukan sebuah jembatan dan sungainya adalah Batang Sinamar.

Setelah dari Kumanis yang menjadi ibukota kecamatan Sumpur Kudus, saya melewati nagari Tanjung Bonai Aur. Di sana simpang empat. Kalau belok kanan akan mendapatkan jalan buntu lalu kalau belok kiri akan sampai di Koto Panjang nagari Tigo Jangko Lintau dan kalau lurus akan memasuki nagari Tamparunggo.

Jarak Tanjung Bonai Aur ke Tamparunggo sekitar 7 km dan di sini ada nama daerah Sabiluru yang menjadi tempat persembunyian radio YBJ 6 dari incaran Belanda. Mr. Syafrudin pernah ke sini dari Silantai untuk berbicara via telepon radio dengan Moh. Hatta yang lagi mencari PDRI di Kotaraja, Aceh. Namun sinyal radio yang di Kotaraja tidak begitu kuat sehingga komunikasi hanya dilakukan via telegram.

Lokasi Surau Sabiluru Tempat Markas Radio YBJ-6 di Tamparungo

Lokasi Surau Sabiluru Tempat Markas Radio YBJ-6 di Tamparungo

Menempuh perjalanan ke Sumpur Kudus terasa sangat klasik dan memangkit kenangan yang puitis melewati perkampung ke perkampungan lainnya. Rumah-rumah di sini bisa dikatakan hanya setumpuk-setumpuk di setiap kampung. Dan di antara kampung satu ke kampung lainnya, saya melihat lebih banyak perbukitan dan tanaman karet di mana pun. Sayangnya harga karet tidak terlalu baik sehingga belum bisa sepenuhnya mendongkrak kehidupan masyarakat pada umumnya.

Saya terus menyusuri perjalanan di lereng-lereng Bukit Barisan yang terhampar luas dengan pemandangan yang menajubkan. Sepanjang perjalanan ini, saya hampir-hampir atau sangat sedikit bertemu orang yang berpapasan di jalan. Udara semakin dingin meski waktu telah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Bahkan saking dinginnya, gigi saya gemeretak menahan gigil. Namun saya tidak mungkin berhenti di tempat yang tidak ada orang ini.

Melewati jalan-jalan di lereng berbukitan ini saya melihat beberapa titik longsor. Dan jika perjalanan saya diringi dengan hujan, saya harus menanggung resiko bahwa lereng-lereng bukit ini bisa saja tiba-tiba longsor. Meski jalan-jalan ini cukup rata, tapi saya tidak bisa memacu kendaraan untuk supaya cepat karena medan jalan penuh berbelok-belok dan di sisi kirinya adalah jurang. Bahkan saya pernah terkejut bahwa tiba-tiba saja di depan saya sudah melintas ular dan saya hampir menabraknya.

Waktu terus bergerak, tapi dinginnya lereng perbukitan Bukit Barisan ini terus menusuk-nusuk tubuh saya. Dan pada sebuah tempat, mungkin itu yang dinamakan Bukit Lontiak, pemandangannya bagus sekali. Hamparan perbukitan dan lembah-lembah terasa begitu klasik dan menggugah alam sadar betapa tempat tersembunyi ini pada dulunya pernah silih berganti sejarah yang belum sepenuhnya terkuak oleh hiruk pikuknya peradaban.

Sekitar pukul 10.00 WIB saya telah memasuki nagari Sumpur Kudus dengan ditemukannya Tugu PDRI di sebelah kiri jalan. Jalan-jalan tidak begitu lebar namun kendaraan masih sedikit. Kendaraan hanya berupa sepeda motor dan masih jarang kendaraan roda empat yang saya temui. Mungkin karena saking lengangnya jalan-jalan, saya melihat anak-anak kecil bermain di jalan-jalan tanpa harus perlu ada rasa was-was. Dan kebetulan saat itu cuaca sangat bagus, saya melihat penduduk berjejer di depan rumahnya untuk menjemur padi yang hampir terpakai sebagian badan jalan. Dan ini merupakan sebuah pengalaman langka yang saya temui. Bahkan saya berpikir ini seperti parade menjemur padi. Tadi begitulah nagari Sumpur Kudus yang tenang dengan penduduknya yang ramah.

Tugu PDRI di Sumpur Kudus

Tugu PDRI di Sumpur Kudus

Saya bertanya kepada masyarakat sekitar di mana kantor wali nagari untuk bisa menanyakan informasi tentang PDRI. Masyarakat menunjukkan saya ke di mana letak di kantor nagari dengan ciri khas masyarakat pedesaan yang ramah. Dan setiba di kantor walinagari, saya disambut dengan baik dan saya pun mengatakan maksud dan tujuan kedatangan. Para staff pegawai wali nagari menyarankan saya untuk menunggu Bapak Afrinaldi, salah satu pegawai di kantor wali nagari Sumpur Kudus, sedang keluar ada suatu urusan. Dan selagi menunggu Bapak Afrinaldi, saya pamit dulu hendak ke Silantai kepada beberapa pegawai di sana untuk pamit dan nanti akan kembali lagi setelah tiba di Silantai.

Perjalanan ke Silantai

Rumah yang Menjadi Tempat Rapat PDRI pada 14 Mei-17 Mei 1949

Surau Tabing Markas PDRI di Silantai

Surau Tabing Markas PDRI di Silantai

Saya meneruskan perjalanan ke nagari Silantai yang berjarak lebih kurang sekitar 4 Km dari nagari Sumpur Kudus. Jalanan cukup baik dan tidak terlalu banyak kendaraan. Sama seperti perjalanan sebelumnya, di sini juga dipenuhi perbukitan dan banyak terlihat kebun karet. dan udara di sini terasa cukup panas, sehingga selama perjalanan yang saya lalui tadi menggigil karena kedinginan, namun sekarang tiba-tiba panas, dan saya merasa badan saya kurang enak. Dan ciri-ciri demam mulai terasa pada tubuh saya.

setiba di Silantai saya bertemu sebuah jembatan dan sungainya berair jernih bahkan saking jernihnya saya melihat dasar-dasar sungai terlihat jelas dengan batu-batunya. Dan akhirnya saya mengetahui nama sungai itu adalah batang Sumpur yang nanti bermuara ke Batang Sinamar.

Setelah melewati jembatan tersebut, saya sampai di Pasar Silantai yang hari itu ternyata bukan hari pekan. Dan di sebelah pasar ada sebuah masjid yang cukup besar dan bagus dan juga masih dalam proses pembangunan. Di samping masjid tersebut adalah sebuah kantor wali nagari Silantai. Kantor dan masjid tersebut terletak di tepi Batang Sumpur. Sungai yang jernih airnya yang berasal dari nagari Unggan.

Unggan ini juga terkenal seantera wilayah Indonesia karena hasil tenun terbaiknya yang sempat menduduki peringkat ke empat secara nasional. Sudah ada sekitar 30 motif tenun Unggan yang dipatenkan dan yang terkenal di antaranya motif duku dan unggan seribu bukit. Yang mana nagari Unggan ini dilingkupi oleh perbukitan yang indah dan nagari ini juga wilayah paling ujung di Sumpur Kudus.

Satu hal yang sangat penting tentang Unggan adalah daerah ini adalah jalur perlintasan pejuang PDRI untuk pergi atau pulang setelah Rapat pada tanggal 14-17 Mei di Silantai pada tahun 1949. Dan sebalik antara Unggan dan Silantai terdapat sebuah nagari di sebalik perbukitan Bukit Barisan adalah nagari Ampalu yaitu jorong Mangunai Tinggi yang dijadikan jalur oleh pejuang PDRI untuk pergi ke Silantai atau kembali dari Silantai menuju Halaban dan Koto Tinggi.

Jalan ke Unggan ini tetap lurus ketika bertemu jembatan Silantai. Berjarak sekitar 4 km menyonsong Batang Sumpur. Di Unggan ini dulunya sudah ada jalan yang bisa dilewati mobil untuk menuju Padang Lunggo Lintau, namun karena sisi jalan sering longsor maka jalan-jalan itu sudah jarang di lewati dan sekarang sudah semak yang berupa jalan setapak. Dan perbatasan antara Unggan dan Lintau ini terdapat sebuah kawasan bernama Pintu Angin. Dari sini jalan akan terbagi tiga, satu ke Padang Lunggo, satu lagi ke Tabek Panjang Lintau dan satu lagi ke Mangunai Tinggi yang berjarak lebih kurang sekitar 15 km.

Ada pun nagari di sebalik Unggan yang sering menjadi jalur lintas PDRI adalah nagari Lubuk hantan yang terdiri dari jorong Padang Lunggo, Tanjung Lansek dan Pamasihan yang berada dalam wilayah administrasi kecamatan Lintau Buo Utara Kabupaten Tanah Datar. Dan dari jorong Pamasihan ini sangat dekat sekali dengan jorong Lompek nagari Halaban Kecamatan Lareh Sago Halaban Kabupaten Limapuluh Kota yang hanya berjarak sekitar 8 Km dengan jalan tanah menembus hutan karet. Dan untuk perjalanan ke wilayah ini, insya allah saya tulis pada Bab khusus mendatang.

Saya pun sampai di kantor wali nagari Silantai dan saya pun di sambut oleh bapak wali nagari. Lalu saya pun mengatakan maksud dan kedatangan untuk meneliti PDRI di Silantai. Maka bapak wali nagari pun memperkenalkan saya dengan bapak Irianes yang selaku anak dari wali perang masa PDRI dulu yang bernama Hasan Basri. Dan di rumah Hasan Basri inilah dulunya rapat PDRI pada tanggal 14 – 17 Mei 1949 dilakukan.

Lalu bapak Irianes mengajak saya ke rumahnya yang kini sudah dijadikan oleh pemerintah sebagai situs cagar budaya dari Dinas Pendidikan. Jarak dari kantor wali nagari itu ke rumah bapak Irianes tidak terlalu jauh dengan jalan yang cukup bagus dan di kiri-kanan jalan adalah sawah dan dikejauhan terlihat Bukit Barisan sedang mengapit nagari Silantai ini.

Tidak berapa lama, kami pun tiba di rumah yang pernah melahirkan sejarah bagi bangsa Indonesia ini. Rumah itu masih asli berpa rumah kayu yang terlihat masih bagus dan kokoh. Dan di ruangan tamu saya melihat beberapa foto bapak Hasan Basri selaku wali perang Silantai dan juga foto bersama Mr. Syafrudin Prawiranegara. Saya pun lalu memotret beberapa foto tersebut.

Di antara peninggalan perkakas yang pernah dipakai oleh Mr. Syafrudin Prawiranegara adalah lampu gantung, meja dan kursi kerja, tongkat Mr. Syafrudin Prawiranegara dan Hasan Basri, lemari dan sebuah tempat tidur. Dan ruang tempat tidur ini saya bertemu dengan istri wali perang Hasan Basri yang bernama Nursani.

Nenek Nursani lahir pada tahun 1925 dan saat itu kondisinya masih sehat namun ingatannya sudah tidak lagi sebagus dulu. Sesudah itu kami mengunjungi sebuah surau yang menjadi tempat tidur bagi Syafrudin Prawiranegara dan mentri beserta pengawalnya. Surau terletak sekitar 100 meter dari rumah yang menjadi tempat rapat dan kantor PDRi tersebut. Dari luar terlihat di dinding surau bertuliskan Istana PDRI Surau Tabiang. Dan surau ini dalam kondisi baik, kokoh dan terawat. Surau ini bermatrial kayu dan berlantaikan papan yang kuat.

Setelah melihat dan memasuki surau Tabiang, saya pun teringat di mana tempat mandinya. Karena biasanya orang dulu mandi di sungai dan pincuran, lalu bapak Irianes membawa saya ke sebuah lokasi tempat mandi yang tidak jauh dari Surau Tabiang tersebut.

Tempat mandi itu berupa sumur yang mata airnya sangat jernih terletak di bawah tebing dan terlihat bekas tanaman aur di tebing itu yang telah dipunahkan. Saya juga mengambil beberapa foto dari sumur tersebut dan lalu kami kembali ke rumah. Dan setelah di rumah kembali saya bertanya kepada bapak Irianes, setelah rapat PDRI selesai, kemana bapak Syafrudin Prawiranegara sesudah itu? Lalu bapak Irianes mentakan bahwa rombongan rapat PDRI kembali pada daerah masing-masing. Namun bapak Syafrudin tetap berada di Silantai dan ia menghabiskan lebih banyak waktunya untuk menulis. Dan bukunya yang di tulis di Silantai itu berjudul “Islam Dalam Pergolakan Dunia”. Saya pun memfoto-copy buku itu dan juga buku tentang memoar Umar Said Noor yang berjudul “Peran Stasiun Radio PHB AURI”.

Setelah selesai memfoto-copy kedua buku tersebut dan melakukan shalat zhuhur yang tidak jauh dari tempat foto copy, saya kembali ke rumah bapak Irianes dan kami foto bersama di depan Tugu PDRI di halaman rumahnya. Lalu saya pun pamit dan kembali ke nagari Sumpur Kudus.

Perjalanan ke Calau, Sumpur Kudus

Markas PDRI di Calau Sumpur Kudus

Markas PDRI di Calau Sumpur Kudus

Saat dalam perjalanan kembali ke Sumpur Kudus, tubuh saya sudah mulai terasa meriang. Saya tidak lagi begitu terfokus mengamati apa-apa yang saya lalui. Dan di sebuah masjid saya berhenti dan lalu mengambil wudhu di sana dan ingin beristirahat sebentar. Tapi saya urungkan karena banyak yang belum saya dapat informasi tentang Sumpur Kudus.

Saya kembali ke kantor wali nagari dan bertemu dengan bapak Afrinaldi. Ia sangat ramah dan juga supel. Lalu saya pun ditawari makalah penelitian dari ibuk Zusneli Zubir yang berjudul SUMPUR KUDUS DALAM PERJALANAN SEJARAH MINANGKABAU TAHUN 1942-1965 dan dari penelitian tersebut saya membaca tentang peristiwa PDRI di Kecamatan Sumpur Kudus.

Setelah berbincang-bincang sebentar juga bersama teman bapak Afrinaldi, saya pun pergi ke jorong Calau tempat pertama Mr. Syafrudin tinggal. Jorong Calau ini terletak di nagari Sumpur Kudus Selatan yang mana pada dulunya masih menyatu dengan nagari Sumpur Kudus. Karena pertimbangan administrasi, maka nagari Sumpur Kudus dimekarkan menjadi dua dengan nama nagari Sumpur Kudus Selatan. Namun secara adat dan kemasyarakatan, dua nagari tersebut tidak pernah terpisah.

Jarak dari kantor wali nagari Sumpur Kudus dengan jorong Calau sekitar 2 Km. Setelah bertanya di dalam perjalanan di mana tempat Surau Balai di Pasar Calau akhirnya saya menemukan lokasinya yang berdekatan dengan kantor wali nagari Sumpur Kudus Selatan. Dan saya masuk ke kantor wali nagari tersebut dan menyatakan maksudan tujuan datang, maka salah seorang pegawai wali nagari tersebut membawa saya ke lokasi PDRI tersebut.

Lokasi PDRI di Calau ini pada dulunya adalah rumah orang tua Buya Syaffi Maarif. Dan Mr. Syafrudin Prawiranegara sampai di Calau ini pada tanggal 5 Mei dan menetap di sini sampai tanggal 9 Mei 1949. Keadaan rumahnya masih asli dan di beberapa sisi rumah membutuhkan perbaikan. Rumah itu berupa Tumah Gadang dengan ciri khas gonjongnya dari Minangkabau.

Di depan rumah tersebut ada sebuah telah menjadi sebagai Surau Yayasan Maarif Maaruf. Dan keadaan surau ini masih baik yang terbuat dari papan dan setiap sore masih ada anak-anak yang mengaji di sini. Di belakang rumah rumah ini saya tidak lagi menemukan tempat radio PHB AURI UDO di tempatkan.

Dan di dekat surau tersebut terdengar dengar jelas bunyi suara deru air Batang Sumpur yang menjadi jalur transportasi oleh rombongan PDRI dari Bidar Alam. Setelah mengambil beberapa foto, saya pun mengatakan untuk pamit dan undur diri kepada para staff pegawai wali nagari Sumpur Kudus Selatan.

Di Nagari Sumpur Kudus

Makam Rajo Ibadat di Sumpur Kudus

Makam Rajo Ibadat di Sumpur Kudus bersama Afrinaldi

Saya kembali lagi menuju nagari Sumpur Kudus yang mana jika jalan yang di Sumpur Kudus Selatan ini saya teruskan, maka jalan tersebut akan membawa saya menuju ibukota kabupaten Sijunjung yaitu kota Muaro. Namun informasi yang saya cari di Sumpur Kudus seperti tentang Syekh Ibrahim Sumpur Kudus, Raja ibadat dan lain-lain.

Tidak beberapa lama saya sudah sampai di jalan depan kantor Wali Nagari Sumpur Kudus, karena badan saya mulai meriang, maka saya batalkan bertemu bapak Afrinaldi untuk memfoto-copy buku-buku tentang Sumpur Kudus. Saya lalu berangkat pulang dan sebab juga saya khawatir jika kemalaman sebelum sampai di Jalan Lintas Sijunjung – Lintau. Lalu saya pun berangkat untuk pulang.

Belum seberapa jauh berjalan, saya bertemu dengan masjid Rajo Ibadat. Masjid ini cukup besar dan terpelihara dengan baik. Saya memotret seperlunya lalu saya menuju ke belakang masjid dan lalu terlihat sebuah kuburan dengan tulisan Raja Ibadat. Kuburan tersebut dipagar dengan panjang lebih dari dua meter dan juga diberi atap. Dan saya pun memotret seperlunya lalu saya pun melanjutkan perjalanan. Dan tidak jauh juga dari tempat tersebut menuju jalan pulang, saya melihat Tugu PDRI Sumpur Kudus. Lalu saya pun memotretnya dan melanjutkan perjalanan.

Saya tidak ingat lagi jam berapa saya pulang namun saat itu saya merasakan sudah masuk waktu ashar. Saya terus menyusuri jalan-jalan di lereng perbukitan Bukit Barisan yang teduh oleh pepohonan. Saya merasakan sebuah perjalanan yang sangat fantastik dan begitu klasik dan belum pernah saya rasakan sebelumnya dalam setiap perjalanan.

Ketika di tengah perjalanan, saya bertemu dengan pengendara lain yang sama-sama beriringan. Saya terus mengikutinya dan ia terlihat ramah. Jalan-jalan yang dilalui ini cukup bagus namun banyak tikungan. Dan di setiap bertemu belokan, ia membunyikan klason karena lawan kendaraan dari arah berlawanan dengan kita bisa lebih hati-hati.

Sesampainya di nagari Tanjung Bonai Aur, saya teringat bahwa ketika Mr. Syafrudin prawiranegara meninggalakan Silantai pada tanggal 19 Mei 1949 menurut memoar Umar Said adalah melewati nagari Tanjung Bonai Aur ini. Ternyata dari sini diperkirakan melalui nagari Tigo Jangko dan terus ke Sangki Tingga lalu melintasi perbukitan hingga sampai Talang dan Lareh Aie Lubuk Jantan. Dan dari sini terus ke Tanjung langsat, pamasihan dan ke Siaur. Tiba di Siaur Mr. Syafrudin dengan rombongan menyonsong tepian batang Sinamar hingga tibda di Koto Tinggi.

Saya pun terus berjalan dan sesekali saya terperanjat jika ada mobil atau bus dari arah berlawanan. Dan sejak itu saya mengerti mengapa pengedara di depan saya sangat sering membunyikan klason. Dan ketika telah sampai di Kumanis saya pun memelankan kendaraan saya. Dan saya pun menempuh jalan berbeda dari arah yang saya masuk tadi. Saya memilih belok kanan dan saya tidak Lintau.

Sebelum bertemu jalan lintas, saya sangat kagum di tepi jalan banyak kerbau-kerbau yang dilepaskan. Perkiraan saya hampir limapuluh ekor. Saya memotret kerbau-kerbau yang dipelihara secara lepas tersebut. Dan tidak seberapa jauh, saya pun bertemu jalan lintas dan belok kanan untuk menuju pulang ke Payakumbuh. Dan setiba di masjid raya lintau, saya shalat Ashar dan setelahnya menyaksikan seseorang yang memberi makan ikan sebuah kolam besar di depan masjid tersebut. Saya pun sampai di rumah sebelum adzan magrib.

Surau Batu Banyak di Sumpur Kudus

Pada beberapa waktu saya kembali ke Sumpur Kudus memastikan keberadaan Radio PHB AURI yang setelah berangkat dari Calau Sumpur Kudus meneruskan perjalanannya pada sebuah lokasi yang baru. Tempat itu berada sekitar 3 KM dari Silantai Sumpur Kudus tempat menginapnya Mr. Syafrudin Prawiranegara. Dan setelah ditelusuri saya mendapatkan informasi bahwa tempatnya di Surau Batu Banyak. Perjalanan saya kali ini ditemani oleh Dedi Erianto dan Afrinaldi.

Lokasi Surau Batu Banyak di Sumpur Kudus

Lokasi Surau Batu Banyak di Sumpur Kudus

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

HP/WA 081267727161

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *