PDRI DI BIDAR ALAM DAN ABAI SANGIR

Perjalanan Menuju Bidar Alam dan Abai Sangir

Saat itu di akhir bulan September masih di tahun 2017 saya melakukan perjalanan ke Abai Sangir dan Bidar Alam. Saya 3 kali melewati jalan ke Bidar Alam dalam waktu bersamaan. Berangkat jam 4 shubuh dari Sariak Laweh menuju Batu Hampar melewati daerah Tanjung Alam, Barulak dan tembus di Tabek Patah.

Di lain waktu saya menempuh perjalanan mulai dari pasar Payakumbuh terus menyusuri jalan Soekarno-Hatta hingga sampai ke Ngalau Indah. Dan nanti berbelak ke kiri menuju Balai Panjang dan sampai di Limbukan hingga terus ke Situjuh.

Limbukan ini pada masa PDRI juga menjadi tempat basis pertahanan bagi pasukan Republik. Ada pertempuran sengit di sini di Kapalo Koto tepatnya di lokasi rumah makan Pongek Situjuh “OR” sekarang dan Limau Kapeh (Kubang Gajah) ketika pada tanggal 15 Januari 1949 saat Belanda mengepung rapat pejabat PDRI di Lurah Kincir Situjuh Batur.

Jalanan di Limbukan secara sejuk dengan berbagai tanaman di sepanjang jalan. Jalanannya cukup bagus meski belum terlalu lebar namun tidak macet. Setelah melewati Limbukan saya pun tiba di Situjuh Banda Dalam. Ada pohon beringin besar di pinggir jalan, sebuah kantor nagari dan juga masjid. Saya terus menyusuri perjalanan hingga tiba di Situjuh Batur dan pada sebuah simpang tiga ada sebuah pasar pekan, masjid pahlawan dan tidak jauh dari sana adalah kawasan lurah kincir yang menjadi Peristiwa Situjuh pada tanggal 15 Januari 1949 tersebut.

Di simpang tiga tersebut kalau lurus akan menuju ke Padang Siantah hingga Piladang dan jalan Lintas Payakumbuh- Bukittinggi. Namun jika berbelak kea rah kiri akan menuju ke Situjuh Tungkar. Dan hampir satu abad yang lalu, di sini ada ulama besar yang bernama Syekh Tungkar dan melahirkan murid-murid yang menjadi ulama besar pada masanya seperti Syekh Abdullah Halaban dll.

Dan sesudah Situjuh Tungkar saya memasuki nagari Ampale yang sudah termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Tanah Datar. Jalan-jalan belum begitu bagus dan sepanjang jalan banyak di temui sawah-sawah dan perbukitan. Dan kalau berjalan di pagi hari tentu sangat dingin sekali. Dan sesudah itu ada nagari Tanjung Alam dan Bulakan hingga tiba di jalan lintas Batusangkar-Bukittinggi.

Jalan-jalan di sini masih cukup sunyi dan tidak begitu banyak perumahan penduduk yang terletak di lereng perbukitan dan di sisi lainnya terdapat ngarai-ngarai. Dan lalu jalan tersebut tiba di Tabek Patah. Pada masa PDRI di sini juga terdapat perlawanan pasukan republic melawan pasukan Belanda.

Mulai dari Tabek Patah, jalanan hampir dipastikan lurus. Di sisi kiri dan kanan terdapat sawah-sawah yang berjenjang hingga sampai ke Salimpauang, Rao-rao hingga sampai ke Sungai Tarab. Dari Sungai Tarab tidak jauh lagi ke pusat kota Batusangkar. Dan dari sini saya terus menuju Pariangan dan terus ke Rambatan lalu melewati Sulit Air hingga tiba di Ombilin.

Pada masa PDRI tangal 19 Desember 1948, Belanda mendaratkan pasukannya di Ombilin tepian Danau Singkarak. Dan dari Ombilin ini ada terus menuju Padangpanjang hingga ke Bukittinggi; ada juga ke Batusangkar melewati Sulit Air, Rambatan hingga ke Batusangkar; serta ada juga menyusuri rel kereta api hingga sampai ke Kota Solok dan menuju Sawahlunto dan Sijunjung. Dan dari kota Solok ada juga yang berjalan menuju Kayu Aro, Alahan Panjang, pantai Cermin, Muaro Labuah hingga ke Sungai Kalu. Dan pada akhirnya perjalanan saya dari Payakumbuh hingga ke Bidar Alam dan Abai Sangir merupakan rute peristiwa konflik pasukan Republik dengan pasukan Belanda.

Jalanan di pagi hari di tepian danau Singkarak terasa sejuk dan tidak macet. Angin danau menerpa dedaunan, dan riak-riak permukaan danau berhembus ke tepian seperti hembusan sejarah yang terus tergulung bersama waktu. Dan hampir setengah dari Danau Singkarak saya pun memasuki gerbang dari Kabupaten Solok yang juga diikuti oleh rel kereta api menuju kota Solok, Padang dan Sawah Lunto. Melului rel kereta api inilah Belanda menyusurinya hingga sampai di Solok dan Sawahlunto.

Dari Tepian Danau Singkarak saya tiba di Pasar Sumani. Udaranya yang sejuk dengan keadaan daerahnya yang terasa tenang. Dan setelah itu saya pun sampai di kota Solok lalu terus menuju jalan Lintas Solok-Padang yang melewati kecamatan Gunung Talang. Jalanan cukup bagus dan terus menanjak, dingin dan tiba di Kayu Aro terlihat ada sebuah Patung Ayam yang menjadi saksi sejarah perlawanan pejuang Solok dalam mempertahanankan kemerdekaan dari tangan Belanda.

Setelah melewati beberapa km dari Kayu Aro saya bertemu dengan sebuah simpang tiga dan berbelok ke kiri menuju Alahan Panjang. Jalanan semakin menanjak dan udara terasa semakin dingin. Saya melewati daerah ini sekitar jam 08.00 WIB dengan embun yang turun sangat deras. Saya tidak begitu yakin apakah ini embun atau hujan, tapi saya meyakinkan diri bahwa keadaan tersebut adalah embun. Saya memakai baju 2 lapis, 3 lapis jaket dan satu mantel hujan. Dan semua itu belum dapat menahan dingin dari daerah Alahan Panjang.

Di sepanjang perjalanan, saya melihat perkebunan bawang merah yang tumbuh dengan subur. Dan di sebagian tempat saya juga melihat perkebunan teh yang luasnya ribuan hektar. Saya tidak mengetahui secara pasti, namun perkebunan ini membentang dari Danau Di Atas dan Danau Di Bawah hingga ke pinggang gunung Talang dan Bukit Barisan.

Angin Danau Kembar berhembus dari melewati perkebunan bawang, perkebunan teh yang dilingkari Bukit Barisan dan terlihat semakin cantik. Dan di lembah Gumanti saya melihat sebuah Tsanawiyah Moh. Natsir yang konon kampungnya berasal dari sini. Dan dari Lembah Gumanti ini Danau Di Atas terlihat jelas sekali dengan pemandangan yang indah.

Dari Alahan Panjang yang masih dalam kabupaten Solok ini saya meneruskan perjalanan melalui daerah-daerah pesawangan namun jalanan tersebut masih aman meski jalanannya belum terlalu bagus. Di sisi kiri di penuhi dengan perbukitan yang bersemak dan di sebelah kanan terkadang berupa lembah dan perbukitan. Dan setelahnya saya sampai di nagari Gelagah dan Pantai Cermin. Dan pada daerah-daerah yang dilewati ini juga rute-rute konflik Antara pejuang Republik dengan tentara belanda. Namun hal ini saya ingin menulisnya secara khusus sesudah tulisan di bawah ini sebelum tiba di Bidar Alam.

Dari Pantai Cermin saya melewati Surian dan tiba di sebuah kali kecil yang menjadi perbatasan Antara Kabupaten Solok Selatan dan kabupaten Solok. Di sini ada rumah makan namanya rumah makan Bateh dan lalu melewati jembatan kali yang langsung di sambut dengan tulisan “SelamaT Datang di Solok Selatan”. Lalu jalan seterusnya sampai ke Muaro Labuah dan Lubuk Malako dijumpai sangat baik dan rata meski jalanannya belum terlalu lebar. Saya terus melewati jalan tersebut sehingga tiba di Muaro Labuah yaitu di Sungai Kalu. Di sini ada Taman Muaro Labuah dengan sebuah tugu mirip mahkota. Dan pada pagi hari di daerah di sini cukup ramai oleh warga yang sedang lari pagi ataupun sarapan khas ala Muaro Labuah yaitu sate atau kontong sate.

Saya terus melanjutkan perjalanan meninggalkan Muaro Labuah dan melewati nagari Seribu Rumah Gadang yang menjadi ikon pariwisata Solok Selatan yang sudah berumur tua dan sangat terawatt seperti awetnya budaya ranah minang di nagari tersebut. Setelah melewati daerah tersebut saya pun tiba di Pasar Pekan Selasa dan Liki Atas. Di sini saya melihat di sisi kanan jalan Kebun Teh Liki terhampar sangat luas hingga ke pinggang Gunung Kerinci. Ada ribuan hektar luas perkebunan teh di sini dengan pemandangan alam yang indah dan udara yang sejuk. Dan tidak jauh setelah itu beberapa km saya bertemu dengan Kantor Bupati Solok Selatan. Setelah itu saya melewati Sungai Kalu dan Padang Aro. Dan di Padang Aro ini masyarakatnya sudah ramai dan geliat ekonominya berjalan dengan cukup cepat.

Setelah dari padang Aro saya terus ke Lubuk Gadang dan Lubuk Malako. Ada beberapa jarak yang cukup pendek jalanan di sini kurang bagus dan setelahnya jalanan sangat lebar dan bagus serta rata. Di sini saya berjumpa dengan rumah gadang yang menjadi situs cagar budaya yaitu rumah gadang Siti Aminah. Dan saya belum mengetahui pasti bagaimana sejarah dari tokoh Siti Aminah ini. Dan dari Lubuk Malako ada jalan bersimpang tiga. Kalau ke kanan akan menuju Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci Jambi dan kalau lurus akan sampai ke Bidar Alam. Jarak dari Lubuk Malako ke Bidar Alam sekitar 29 Km.

Ketika Berada Bidar Alam dan Abai Sangir

Masjid Syafrudin Prawiranegara di Bidar Alam

Masjid Syafrudin Prawiranegara di Bidar Alam

Jalanan ke Bidar Alam melewati lereng perbukitan. Di sisi kanan terdapat bukit-bukit dan terkadang persawahan dan di sebalah kiri terlihat Batang Sangir mengalir dengan air yang deras menuju Bidar Alam, Abai Sangir dan hingga bermuara ke Sungai dareh atau disebut juga dengan Batang Hari. Dan melalui sungai inilah Mr. Syafrudin Prawiranegara bersama rombongannya dari Sungai dareh menuju Abai Sangir dengan kendaran perahu.

Saya tiba di Bidar Alam di waktu zuhur dan langsung beristirahat di Masjid Syafrudin Prawiranegara. Masjid itu cukup bagus dan luas dengan cukup ramainya jamaahnya. Lalu saya pun shalat jamak qasar bersama teman saya, Zulfami di masjid itu. Dan setelahnya saya menelepon Nefrizal dan tidak lama setelahnya ia telah sampai di masjid tersebut.

Kami di bawa ke rumahnya dengan berbicara dengan ayahnya tentang PDRI meski sejenak lalu kami ke rumah Sekretaris Waki Nagari Bidar Alam, Bpk Ref Rizal untuk saling bersilaturahmi. Di sana kami duduk di bawah sebatang pohon yang teduh dan sejuk menikmati kopi panas sambil berbicara tentang PDRI di Bidar Alam.

Dari Kiri: Nefrizal, Refrizal, Zulfahmi

Dari Kiri: Nefrizal, Refrizal, Zulfahmi

Menurut memoar dari Umar Said Noor, pejabat PDRI telah sampai di Bidar Alam pada pertengahan Januari 1949. Yang mana sbelumnya hampir sekitar 2 minggu berada di Abai Sangir. Dan juga menurut Nefrizal, saat pejabat PDRI berada di Abai Sangir, Wali Perang Bidar Alam mengirimkan utusannya ke Abai Sangir untuk membawa pejabat PDRI ke Bidar Alam. Lalu berangkatlah seorang utusan sambil membawa buah tangan makanan khas rendang dari Bidar Alam. Setiba di Abai Sangir, utusan dari Bidar Alam disambut dengan baik oleh pajabat PDRI. Dan Mr. Syafrudin pun mengutus seseorang untuk melihat keadaan daerah Bidar Alam apakah cocok dijadikan sebagi pusat pertahanan. Selain dari itu, Bidar Alam memiliki perlengkapan logistik yang cukup bagus dengan melimpahnya hasil panen padi di sana.

Istana PDRI di Bidar Alam

Istana PDRI di Bidar Alam

Utusan Mr. Syafrudin membawa kabar baik bahwa Bidar Alam sangat cocok di jadikan sebagai tempat perhanan dan menjalankan pemerintahan oleh pejabat PDRI. Daerahnya yang tersuruk dan akses jalan ke sana di apit oleh perbukitan membuat daerah ini menjadi pilihan bagi pejabat PDRI. Kedatangan rombongan pejabat PDRI disamut dengan tari persembahan oleh masyarakat nagari Bidar Alam. Dan Mr. Syafrudin pun berjalan separuh kiyai dan militer dalam acara penyambutan itu.

Tidak seberapa lama di sini saya terus ke Abai Sangir bersama Nefrizal. Jarak ke sana sekitar 14 km dengan melewati jalanan perkebunan karet dan perbukitan dengan kondisi jalan yang bagus di sepanjang Batang Sangir. Dan sebelum tiba di Abai Sangir kami melewati daerah Ranah Pantai Cermin yang menjadi sasaran bombardir Belanda untuk melumpuhkan PDRI. Tapi sasaran Belanda meleset dan pejabat PDRI tidak bermukim di sana.

Rumah PDRI di Abai Sangir

Rumah PDRI di Abai Sangir

Di Ranah Pantai Cermin sekarang terlihat sudah banyak dihuni warga. Jalannya cukup bagus dan rata. Dan beberapa km berjalan saya pun tiba di sebuah simpang tiga. Simpang belok kanan akan menuju ke Abai hingga Sungai Rumbai, Dharmasraya dengan melewati pesawangan hutan karet dan sawit sepanjang lebih kurang 70 km. Jalanan ke belum begitu bagus dengan sebagian besar berupa jalan kerikil dan belum banyak di tempuh warga. Dan pada masa ketika pejabat PDRI di Sungai Dareh yang memecah rombongan menjadi tiga, maka rombongan Moh. Hasan dan awak radio memilih jalan darat dengan menempuh rute Sungai Rumbai, Abai Siat, Abai dan Abai Sangir. Sedangkan rombongan Lukman Hakim yang pergi ke Muaro Tebo dan Muaro Bungo maka menempuh perjalan dari Sungai Rumbai, Abai dan Abai Sangir.

Di simpang tiga tersebut saya bersama Nefrizal berjalan lurus dan bertanya kepada warga di mana letak Rumah Gadang Panjang di Abai Sangir. Di sini jalan-jalan tertata rapidan cukup rapat. Rumah-rumah adat di sini sangat panjang yang dimiliki oleh setiap suku. Dan di setelah bertanya-tanya, kami pun menemukan rumah gadang yang sangat panjang dengan ukuran 84 meter dengan 21 buah kamar. Dan di sinilah pejabat PDRI menetap lebih kurang 2 minggu setelah dari Sungai dareh menempuh perjalanan menyongsong Batang Sangir kecuali rombongan Moh. Hasan yang membawa radio dan Lukman hakim yang menuju ke Muaro Bungo. Ada juga rombongan lain kembali ke Payakumbuh seperti Kolonel Soejono yang terus ke Koto Tinggi untuk mengkonsolidasikan radio ZZ di Puar Datar dan radio YBJ 6 di Lubuk Jantan, Lintau.

Di rumah gadang panjang ini ternyata pada saat itu akan diadakan hari berhelat walimahan secara adat ada hari selasa. Dan kami saat itu pada hari sabtu dan terlihat ibuk-ibuk dan anak perempuan sedang sibuk ke dapur dalam mempersiapkan acara helatan. Di dalam rumah sudah mulai terpasang gorden-gorden dan hiasan perhelatan dengan indah. Saya mencoba memfoto rumah gadang tersebut tapi tidak bisa semuanya. Hanya sekitar separuh rumah gadang yang tertangkap kamera.

Saya berjalan ke belakang rumah namun tidak menemukan lagi kandang kuda yang menjadi tempat percetakan uang URIPS pada masa PDRI. Di belakang rumah gadang tersebut sekarang sudah di penuhi oleh rumah-rumah penduduk yang dibuat seperti rumah biasa. Saya memfoto rumah tersebut terdiri dari semi permanen dan sangat terawat. Nefrizal pun bercerita dengan ibuk-ibuk setempat dengan logat bahasa Sangir yang kurang begitu paham saya tentang maknanya. Tapi penduduk di sana sangat ramah dan kunjungan kami disambut dengan gembira.

Hari telah beranjak sore kami pubn kembali ke Bidar Alam. Kami pun kembali ke rumah Bapak Ref Rizal yang pada sebelumnya meminjamkan saya buku PDRi tentang kumpulan makalah para pelaku sejarah PDRI di Jakarta pada tahun 1989. Namun karena listrik di seluruh daerah tersebut mendapat giliran mati pada hari Sabtu maka buku-buku tersebut difoto oleh teman saya, zulfahmi dan say abaca di komputer. Dan setiba di sana buku-buku tersebut sudah dipotret dan dipindahkan ke dalam flashdick. Lalu kami pun buru-buru pamit sekalian melihat rumah gadang yang ditempati oleh Mr. Syafrudin Prawiranegara. Saya memotret rumah tersebut dan tempat radio UDO yang dipimpin oleh Dick Tamimi terletak di seberang jalan dari rumah gadang tersebut.

Bekas Markas Radio PHB AURI UDO Bidar Alam

Bekas Markas Radio PHB AURI UDO Bidar Alam

Kantor yang dijadikan sebagai markas awak Radio PHB UDO tersebut sekarang sudah dijadikan sebagai TPA/TPQ di Bidar Alam. Bangunan itu terdiri dari bangunan batu, bercat putih dengan dua tingkat. Dan setelahnya kami berjalan menyusui jalanan kecil yang tiba di Batang Sangir. Di sana dulunya pejabat PDRI mandi. Airnya tidak terlalu dalam. Ada yang sedalam betis dan airnya cukup deras. Dan setelah dari sana, kami menuju sebuah tugu PDRI yang dibangun oleh Sultan Yokyakarta untuk mengenang dan penanda peran radio PHB UDO di sana.

Tinggi tugu tersebut sekitar 3 meter dengan dilapisi keramik berwarna coklat berbentuk segitiga yang berada di jorong Sungai Galugu. Tugu tersebut dibangun di areal halaman sekolah dasar di Bidar Alam. Sangat dekat dengan jalan raya. Dan tidak jauh dari tugu dibangun sebuah museum tentang PDRI. Dan hari pun telah mendekati senja dan kami pun pamit kepada Nefrizal untuk kembali ke Payakumbuh melalui Muaro Labuah, dan Alahan Panjang.

Tugu PDRI di Bidar Alam

Tugu PDRI di Bidar Alam

Pada suatu waktu, saat saya pergi ke Alahan Panjang bersama Dedi Erianto, kami menempuh jalan berbeda ketika pulang ke Payakumbuh yaitu menempuh rute menuju jalan ke Panorama yang bisa terlihat Danau Di Atas dan Danau Di Bawah. Dan dari sana kedua danau tersebut terlihat jelas. Dan ketika pulang, kami belok kanan dari gerbang panorama hingga lurus ke kota Solok. Ada pun daerah yang kami lalui seperti Koto Anau, Kubung, Muaro Paneh dll. Dan sepanjang perjalanan tersebut kami melihat danau Singkarak dari kejauhan yang tidak jauh beda terletak di ketinggian Gunung Merapi dan Gunung Singgalang.

Pada jalan ini yang kami tidak lagi menyusuri tepian Danau di Atas melainkan berada di sisi Danau di Bawah dengan pemandangan yang menajubkan. Selain dari itu, lokasi jalan ini merupakan juga rute wilayah konflik ketika agresi militer Belanda kedua antara pejuang republic dengan pasukan Belanda. Lalu jalan ini tiba di Pasar Kota Solok dan kami meneruskan perjalanan terus ke Danau Singkarak lalu belok kanan sesudah jembatan Ombilin dan tiba di Sulit Air, Rambatan hingga tiba di Pasar Kota Batusangkar. Dan dari sana kami terus ke Payakumbuh melalui Sungai Tarab, Rao-rao, Salimpuang, Tabek Patah hingga sampai diperbatasan Lima Puluh Kota seperti Barulak, tanjung Alam dan tiba di Situjuh Tungkar, Situjuh Batur, Situjuh Banda Dalam, dan terus ke Limbukan.

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

HP/WA 081267727161

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *