PDRI DI HALABAN

Perjalanan Menuju Halaban

Saat itu saya berangkat dari rumah pada bulan Mei pada tahun 2017, siang sesudah zhuhur dari Tiakar dan hari sangat bagus, cerah dan sayamelewati Labuh Silang dan terus ke arah Air Tabit menyusuri Jalan Ahmad Yani. Jalanan tidak macet dan jalan belum begitu lebar meski ada kerusakan di beberapa tempat yang tidak begitu parah. Namun hampir sepanjang perjalanan jalanan cukup baik untuk akses menuju ke Lintau.

Sejak dari Labuh Silang ke arah Lintau, di sepanjang jalan telah berdiri bangunan-bangunan publik penting seperti kantor PDAM, hotel-hotel, sebuah kampus STKIP sebelah kiri jalan dan juga kios-kios, sebuah SMA N 2 di Bukit Sitabur.

Melewati kelurahan Balai Jaring sebelah kiri jalan ada sebuah bukit yang tidak terlihat dari jalan dengan tingginya sekitar 3 meter dan lebih kurang 100 meter dari jalan dijadikan sebuah benteng pada zaman paderi yang bernama benteng Tuanku Nan Pahit. Benteng itu dijadikan sebagai tempat pertahanan oleh Haji Miskin dan Tuanku Nan Pahit ketika akanke Andalas dan menuju Lintau yang dihadang oleh Belanda. Dan di kawasan inilah pernah terjadi tembak-menembak dengan pasukan Belanda antara Haji Miskin dan pasukan Tuanku Nan Pahit. Haji Miskin diyakini oleh warga setempat meninggal Air Tabit dan di kuburkab di Sungai Kamuyang di dekat Batu Mayik.

Sebagaimana yang dikisahkan oleh Datuk Bandaro Nan Balidah yang menjabat ketua KAN Air Tabit menyebutkan bahwa Tuanku Nan Pahit adalah ulama Paderi yang memimpin masyarakat Air Tabit melawan Belanda dan ia wafat melawan Belanda dan dimakamkan di kawasan Guntuang yang juga berada di tepi jalan raya. Lokasi tersebut sudah semak dan sudah susah mengenali keberadaannya.

Dari keterangan penduduk setempat, kawasan Guntuang ini dulunya sebagai sarangnya penyamun. Mustahil ada yang bisa hidup jika melewati jalan di tempat ini. Jika orang-orang dari Gadut atau sebaliknya yang hendak ke Payakumbuh, maka mereka harus memutar dulu agar bisa selamat.

Sejak dari simpang SMA 2 tadi, pada sisi jalan sudah mulai terlihat banyak perbukitan dan ini bisa saja bisa sebagai pertanda batas kota. Dan di sepanjang jalan ini, terlihat banyak usaha batu batako rumah yang digunakan sebagai material untuk membangun rumah, pagar dan bangunan lainnya. Dan bahan pembuatan batu batako tersebut saya lihat berasal dari tanah perbukitan yang tanahnya liat dan daya rekatnya bagus. Dan setelah melewati itu, pada samping kiri dan kanan jalan terlihat hamparan sawah yang luas. Dan jika pada musim panen, itu seperti lautan luas yang bewarna kuning.

Sesudah melawati persawahan itu dan sebuah sungai kecil di sini telah terpasang merk jalan Ahmad Yani sebagai batas antara kotaPayakumbuh dan kabupaten Limapuluh Kota. Dan tidak jauh dari situ saya telah melihat kubah bewarna biru dari Masjid Raya Air Tabit sebelah kanan. Dan di sebelahnya ada gerbang menuju tempat pemandian kolam renang Air Tabit yang airnya sangat jernih yang bersumber dari mata airnya di bawah Batang Beringin yang entah sudah berapa lama usia pohon itu. Yang konon sumber mata air itu berasal dari Danau Singkarak.

Jalan terus mendaki dan hawa dingin sudah mulai terasa. Gunung Sago terlihat lebih dekat dan pada sisi timur Gunung itu saya hendak menuju yaitu kenagarian Tanjung Gadang, Halaban dan Labuah Gunung. Dan saya masih berada di kenagarian Sungai Kamuyang. Di tepi jalan saya melihat kioas-kios oleh-oleh khas minangkabau seperti karak kaliang, sanjai, kacang atom dll dan tidak jauh juga dari sini terdapat SPBU sebelum kengarian Andaleh.

Sesampai di kenagarian Mungo, sebelah kiri terdapat simpang Denzipur di kenagarian Padang Mengatas. Di Padang Mengatas ini dulu Kamaludin Tambiluak pernah diadili karena dicurogai telah membocorkan rahasia rapat di Situjuh Batur yang membawa korban 69 orang. Kamaludin dibacok dengan kapak oleh salah seorang prajurit namun bacokannya sedikit meleset dan meninggalkan rambut putus Kamaludin di kapaknya. Kamaludin lari ke Talang dengan kepala sudah terinfeksi dan akhirnya dibunuh oleh bawahannya sendiri.

Di Padang Mengatas ini sesudah markas militer Denzipur terdapat peternakan sapi terbesar di Asia Tenggara. Rumputnya hijau dan udaranya sejuk yang terhampar dari lereng Gunung Sago sejauh 280 hektar hingga ke Batu Gajah di kenagarian Labuah Gunung. Untuk mengisi masuk ke wilayah ini Anda harus membawa surat pengantar dari sekolah atau kampus atau instansi dalam rangka penelitian, edukasi dll.

Setelah melewati nagari Mungo, saya pun tiba di Pasar Gadut kenagarian Batu Payung. Di sini pada zaman PDRI pernah didirikan markas Batalyon Merapi yang dipimpin oleh Letnan II Bainal Datuk Paduko Malano. Dan disini juga pernah ada pemancar radio Auri PHB PKB III yang dipimpin oleh Ahmad Basah, operator Aladin dan penerjemah Ajas. Namun setelah cari telusuri radio ini, saya tidak lagi menemukan keberadaan dan informasi lebih lanjut tentang radio ini.

Di Pasar Pakan Raba’a Gadut ini haripasarnya hari rabu dan sangat ramai. Masyarakat sekitar akan ke pasar untuk menjual hasil kebunnya atau membeli keperluan rumah tangga. Dan biasanya kalau di hari pasarnya jalanan di dekat sini akan sedikit macet.

Saya pun telah sampai di kenagarian Labuah Gunuang dan terus melalui jalan-jalan di tepi perbukitan yang berkelok meski saya cukup khawatir karena jalan-jalan tidak semuanya rata dan sedikit berlubang. Dan sebelah kiri jalan saya melihat masyarakat membuat batu bata yang terletak di pinggir jurang. Sekarang sudah ada beberapa kedai kopi di jalan itu sambil menikmati pemandangan ke sebelah timur dengan hutan lembah yang sangat luas sejauh mata memandang.

Mencari Dangau Yahya di Kawasan Tadah

Saya tidak tahu jalan-jalan yang berbelok-belok tadi sudah termasuk nagari Tanjung Gadang atau masih Labuh Gunuang namun tidak jauh lagi dari situ, kenagarian Halaban sudah dekat. Ketika sudah memasuki Pasar Alang Lawehsaya berbelok ke kiri menuju jorong Lompek Halaban.

Tempat pertama yang saya cari adalah kawasan Tadah di Jorong Lambuak nagari Halaban yaitu sebuah lokasi dangau Yahya yang informasinya saya temukan di sebuah blog di internet sebagai tempat basis perjuangan PDRI. Dan saya mengira jorong Lambuak itu sebelah kiri jalan karena saya belum sering ke Halaban dan mengira Halaban itu berbelok sebelah kiri. Ketika belum terlalu jauh saya berjalan, saya bertanya di mana kasawan Tadah kepada salah seorang pekerja mesin heler berjalan. Dia menyuruh saya kembali ke jalan besar lalu terus menuju arah Lintau. Saya pun terlewat, lalu bertanya kepada salah seorang pemuda kemana arah jalan jorong Lambuak. Lalu ia pun juga menyarankan belok kiri sesudah masjid jika dari arah Lintau. Setelah bertanya-tanya sebentar lalu saya pun memasuki sebuah jalan yang masih berupa kerikil dan mendaki. Saya terus menyusuri jalan itu yang di samping kirinya sawah-sawah bejenjang hingga saya pun bertemu dengan rumah bapak jorong Lambuak dan bertanya kepada salah seorang keluarganya dimana kawasan Tadah. Keluarga pak jorong pun memberitakan saya untuk kembali ke bawah dan bertanya dimana kawasan Tadah di dekat pasar Alang Laweh.

Ketika saya pun turun lagi ke bawah untuk menuju Alang Lawas saya menikmati hamparan sawah di ketinggian dengan jalan yang sedikit becek karena baru saja saluran air sedang diperbaiki yang bersumber dari Gunung Sago. Setiba di pasar Alang Laweh, saya langsung melihat papan jalan bernama Jl. PDRI dan saya pun menyusuri jalan itu dengan aspal kualitas rendah yang sudah mulai berlubang. Namun beberapa ratus meter setelahnya, jalan PDRI itu sangat bagus dan sangat baik sekali. Saya terus menyusuri jalan itu dan rumah sudah semakin jarang. Lahan-lahan ada yang ditanami singkong danada juga yang semak-semak dan juga jurang-jurang. Dan setelah itu sudah terlihat rumah satu-satu dan di atas pendakian saya melihat sebuah tugu PDRI berdiri sekitar 3 meter di Parak Lubang kenagarian Tanjuang Gadang.

Saya memfoto-foto beberapa tempat di sekitar itu di antara masjid Muhlisin yang terlihatSD N 2 Tanjung Gadang dan beberapa buah sudut potret dari tugu PDRI. Lalu saya turun ke bawah menanyakan ke sebuah rumah dari warga untuk mencari infomasi kemana saya harus bertanya tentang PDRI ini. Lalu saya pun disarankan untuk bertanya ke wali jorong Alang Laweh untuk bertanya lebih lanjut.

Saya pun kembali ke bawahtempat pertama masuk tadi dan bertanya dimana rumah wali jorong. Karena kenagarian Tanjung Gadang dan Halaban hanya dipisahkan oleh sebuah jalan PDRI tadi, lalu saya pun bingung harus menemui wali jorong yang mana. Sebelum menumui wali jorong saya bertanya kepada seorang ibuk yang ramah dekat Pasar Alang lawas tentang lokasi kawasan Tadah. Ibuk itu menyarakankan saya untuk kembali lagi beberapa ratus ke atas dan mengatakan sebuah rumah sebelah kiri jalan ada kios beratap terpal biru dan halamannya berumput dan di sampingnya ada jalancor semen yang masih belum lama diselesaikan.

Saya menyusuri jalan cor semen tersebut sehingga saya menempuh jalan tanah yang cukup becek. Kawasan itu sunyi dan tidak ada rumah dan lalu saya pun menemukan seorang bapak separuh baya yang baru saja mencari rumput dengan menggunakan motor dengan roda ragi motornya besar-besar. Kepada bapak itu saya menanyakan di mana lokasi dangau Yahya di kawasan Tadah. Ia tidak tahu dan mengatakan bahwa lokasi tersebut memang benar kawasan Tadah. Lalu saya pun disarankan bertemu dengan seorang pada yang rumahnya sebelum sebuah SMP.

Sebelum sampai di rumah bapak Jamaris, saya bertanya di mana alamat rumah bapak Jamaris pada seorang ibuk yang memiliki kedai alat-alat bangunan. Ia memberitahukan dekat SMP. Lalu saya bilang bahwa saya ingin menanyakan kisah PDRI. Dan ibuk itu menyarankan saya untuk bertanya kepada wali jorong Alang Laweh. Sebelum saya ke rumah wali jorong Alang Laweh, saya singgah dulu di rumah bapak Jamaris.

Bapak Jamaris itu kira-kira berumur sekitar 70 tahun. Ia cukup senang kehadiran saya dan juga ramah. Lalu saya pun mengatakan maksud kedatangan bahwa “Apa memang ada Dangau Yahya di kawasan Tadah?”. Bapak Jamaris mengatakan memang ada tapi tidak di dekat lokasi yang saya datangi tadi namun jauh masuk ke dalam dan lokasinya tidak jauh dari tempat yang saya datangi pertama tadi, yaitu ketika saya memasuki jalan yang dekat masjid.

Bapak Jamaris mengatakan bahwa dia salah satu murid dari guru Yahya. Saat itu ia masih kecil dan belum memahami tentang keadaan peristiwa saat itu. Karena hujan mulai rintik, lalu saya pun mohon diri untuk pamit. Dengan perasaan sedikit cemas, bapak Jamaris menanyakan darimana asal saya. “Lalu saya pun hanya bisa menjawab bahwa saya dari masyarakat umum, bukan wartawan, atau dari instansi mana pun dan suka sejarah dan ingin tahu sejarah PDRI”. Setelah itu saya melihatnya tidak lagi cemas. Namun suatu hari ketika saya meneliti PDRI, maka saya menyimpulkan bahwa kawasan Tadah merupakan bagian dari sejarah PRRI.

Bertemu dengan Bapak Harno M

 

Saya pun mendengarkan informasi dari Bapak Harno M. yang mengatakan bahwa PDRI di Halaban sekitar 3 – 4 hari. Dan yang mengetahui keberadaan dan kedatangan rombongan Mr. Syafrudin Prawiranegara hanyalah 2 orang yang di antaranya Wali Nagari Halaban yaitu Nurman Dt. Bagindo Nan Bapaluak dan kepala Onderneming of Halaban (Perkebunan Teh Halaban) yaitu Joyo Suparto.

Dan dari beberapa informasi dan juga dari bapak Harno M. maka saya pun menganalogikan bahwa rombongan Syafrudin berangkat dari Bukittinggi sekitar jam 21.00 WIB pada tanggal 19 Desember 1948 dan tiba pada tanggal 20 Desember dini hari sebelum shubuh di Halaban. Dan menurut memoar Moh. Hasan, rombongan tersebut terdiri dari tiga rombongan. Ia rombongan paling akhir dan tiba di Kayu Angik Halaban sekitar pukul 02.00 WIB dini hari.

Rombongan PDRI menginap di rumah bekas kepala perkebunan the Halaban tersebut hanya satu malam. Dan besoknya rombongan pindah ke bawah di Parak Lubang kenagarian Tanjuang Gadang di sebuah surau yang letaknya sekitar 50 meter dari masjid Muhlisin sekarang. Dan di surau itulah rombongan PDRI tinggal sembari menunggu Moh. Rasyid dari Pariaman yang melihat langsung kedatangan 3 buah kapal barang dari Singapura.

Rombongan Mr. Syafrudin Prawiranegara yang sebelumnya berada di kawasan Amplasemen Pabrik Teh di sebuah rumah kepala perkebunan Halaban Joyo Suparto. Dan saat ini bekas pabrik teh berada dalam wilayah administrasi jorong Parak Lubang, Nagari Halaban, Kecamatan Lareh Sago Halaban. Perkebunan Teh Halaban ini seluas 1.615 hektar. Pada zaman Belanda, kawasan ini seperti sebuah kota. Di penuhi oleh rumah-rumah pekerja kebun teh, pasar, dan tempat hiburan. Namun ketika Jepang masuk sekitar tahun 1942, maka perkebunan teh diganti dengan singkong.

PDRI mulai terbentuk di Parak Lubang pada tanggal 22 Desember 1948 setelah menunggu kedatangan Moh. Rasyid dari Pariaman untuk melihat tiga buah kapal barang yang baru saja tiba dari Singapura. Dan setelah Moh. Rasyid tiba dini hari di Parak Lubang lalu rapat pun segera dilakukan dan sekaligus pembentukan PDRI. Dan esok harinya radio AURI yang dipimpin oleh Dick Tamimi berhasil menghubungi radio-radio di wilayah Pulau Jawa dan tempat lainnya maka langsunglah diproklamirkanPDRI dari Jorong Parak Lubang kenagarian Tanjuang Gadang kecamatan Lareh Sago Halaban ini pada tanggal 23 Desember 1948 yang dikemudian hari radio ini dikenal dengan radio AURI PHB UDO yang berlokasi di SD Negeri 02 jorong Parak Lubang Nagari Tanjung Gadang. Sekolah ini dibangun pada tanggal 14 April 1949 yang dulunya itu adalah sebuah Sekolah Rakyat yang dibina oleh AURI yang bermarkas di Halaban. Dan tidak jauh dari situ ada sebuah surau dan di sana rombongan PDRI tidur. Namun surau itu telah dipindahkan sekitar 50 meter ke tempat sekarang dengan diberi nama Masjid Muhlisin.

Hari pun sudah sore, hampir pukul 16.00 WIB dan hujan pun sudah mulai berkurang dan saya pun mohon pamit kepada bapak Harno M untuk singgah masjid Alang Lawas. Dan ketika gerimis sudah mulai berkurang, saya bertanya kepada salah seorang yang lewat kemana tembusnya jalan yang ke tugu PDRI. Ia mengatakan bahwa jalan itu akan tembus di Tanjung Gadang di jalan Payakumbuh – Lintau. Lalu saya pun kembali melawati jalan ke arah tugu. Sebelum sampai di tugu PDRI, saya melihat sebuah jalan berbatu-batu kerikil yang mengarah ke Gunung Sago. Saya yakin itulah jalan ke Lakuak Siam dan ketika saya menanyakan kepada penduduk setempat ternyata benar. Namun warga tersebut menyarankan besok saja. Karena jalan licin sesudah hujan dan juga hari sudah terlalu dekat ke senja. Maka saya pun menunda ke Lakuak Siam dan terus kembali ke tugu PDRI.

Tugu PDRI yang berlokasi di Parak Lubang ini berbentuk segitiga dengan lapisan marmer dengan warna coklat muda. Tugu itu diberi pagar di sekelilingnya. Dan di dalam tugu ada prasasti yang bisa terlihat dari luar karena dinding tugu sebagian dilapisi laca. Dan dari informasi Bapak Harno M, prasasti itu pada dulunya terletak beberapa meter dari sana. Tepat di lokasi Sekolah Dasar Negeri 2 Tanjung Gadang sekarang yang dibuat oleh anggota AURI.

Tugu PDRI dan Keluarga Sastradipraja

Monumen PDRI Parak Lubang Halaban 2

Monumen PDRI Parak Lubang Halaban

Menurut dari buku memoar Umar Said Noor sebagai pelaku sejarah (petugas sandi Radio PHB NDO atau UDO) menyatakan bahwa prasasti tugu PDRI didirikan pada 17 Agustus 1949 oleh prajurit AURI yang mulanya terbuat dari sebuah kayu setinggi satu meter berbentuk segitiga. Dan pada tahun 1987 ketika rombongan AURI menyerahkan seperangkat alat wayang ke Parak Lubang maka tugu PDRI dipindahkan ke tempat sekarang dengan ukuran yang lebih besar terbuat dari marmer.

Selain dari Tugu PDRI di Parak Lubang terdapat juga sebuah Sekolah Rakyat dan sekarang sudah dinaikkan statusnya menjadi Sekolah Dasar Negeri 02 Parak Lubang Nagari Tanjung Gadang yang didirikan oleh putri-putri Agus Sastradipraja yang mengungsi dari kantor Keuangan Bukittinggi ke Parak Lubang. Putri-putri Agus Sastradipraja ini berjumlah 7 orang dan sebagian sudah ada yang dewasa dan satu orang laki-laki dengan dibantu oleh Ibu Mayor Jenderal Soehardjo Hardjowardojo yang juga mengungsi ke Parak Lubang serta Pasukan Gerilya AURI, maka beliau pun mendirikan Sekolah Rakyat di Parak Lubang. Sekolah ini diresmikan pada 14 April 1949 dengan kepala sekolah Agus Sastradipraja yang juga ikut dihadiri oleh Kol. Sujono.

Rumah Agus Sastradipraja terletak tidak jauh dari lokasi tugu PDRI dan sekarang rumah itu tidak ada lagi dan lokasi persisnya juga tidak diketahui lagi. Rumah ini dulunya sebagai rumah rumah transit bagi para pejabat PDRI dan juga tempat saling bertukar informasi. Mr. Moh. Rasyid, Mr. Tengku Moh. Hasan, Ir. Mananti Sitompul dll ketika kembali dan datang ke Silantai Sumpur Kudus juga singgah ke rumah ini. Dan peran rumah ini sangat penting ketika masa PDRI. Sayang sekali rumah transit ini sudah tidak ada.

Sender Radio PHB NDO di Lakuak Siam Bonjor Sari

Lokasi Radio PHB NDO di Lakuak Siam Jorong Bonjorsari (Defrial Hendra)

Lokasi Radio PHB NDO di Lakuak Siam Jorong Bonjorsari (Defrial Hendra)

Beberapa hari setelah itu, saya kembali ke Halaban. Kedatangan kali ini tujuan saya ke kawasan Lakuak Siam di jorong Bonjor Sari kenagarian Labuah Gunung. Tempat ini berada sekitar hampir 3 Km dari Parak Lubang. Lokasinya sudah tinggi jauh di lereng Gunung Sago. Dan sebelum sampai ke tempat ini, saya bertanya kepada seorang ibuk di warung untuk memastikan betulnya jalan yang saya tempuh. Ibuk warung itu sangat ramah dan ia mengenali saya ketika beberapa hari lalu datang ke Tugu PDRI di Parak Lubang.

Saya terus menyusuri jalan tersebut yang berupa kerikil dan cor semen yang sebagian sudah hancur. Hingga sampai di ujung jalan saya pun menjadi ragu apa belok ke kiri atau ke kanan. Lalu saya pun kembali bertanya ke sebuah rumah warga yang tidak jauh dari tempat tersebut dan ternyata kalau berbelok ke kanan maka sampai di lapangan tembak latihan prajurit Denzipur.

Saya pun memastikan untuk belok kiri dan jalan di Bonjor Sari cukup bagus berupa cor semen yang dibangun dari biaya PNPM yang tertera di plang jalan sebelum masuk. Suasana di Bonjor Sari ini masih belum begitu ramai. Dipenuhi semak-semak lereng Gunung Sago dan di bawah ngarai terdengar bunyi suara air sungai yang begitu alami. Saya pun terus menyusuri jalan cor semen tersebut sehingga bertemu Bapak wali jorong Bonjor Sari yang bernama Defrial Hendra.

Bapak Defrial Hendra mengantar saya ke Lakuak Siam. Jalan ke sana masih berupa tanah di atas lereng Gunung Sago dan kami jalan kaki bertiga ditemani anaknya yang masih berumur sekitar 7 tahun. Dan di sepanjang perjalanan kami melihat bapak-bapak hilir mudik dengan motornya membawa bahan material berupa pasir untuk membangun irigasi di lereng Gunung Sago.

Di sepanjang perjalanan, kawasan kebun teh yang terkenal pada zamannya itu sekarang telah dipenuhi semak-semak dan sebagian lagi kebun singkong. Lokasi ini dinamakan Lakuak Siam karena di sini dulu pernah tumbuh labu-labu siam yang banyak.

Kami pun sampai pada kawasan Lakuak Siam. Terlihat di sana masyarakat melakukan pekerjaan membangun irigasi dan juga ramah dengan senyum. Dan bapak Defrial Hendra membawa saya ke sebuah batu yang mana batu tersebut sebagai tangga untuk naik ke atas rumah. Di sekitar sini dulunya terdapat banyak perumahan penduduk yang juga dihuni oleh prajurit AURI. Dan salah satu penduduk tersebut bernama Mbah Masirot yang rumahnya terbuat dari kayu serta di sinilah para awak radio PHB AURI UDO yang sebelumnya menetap di Sungai Kalam Guguk nagari Ampalu selama 40 hari dan ditanggal 30 Juli 1949 para awak radio pun pindah ke Bonjor Sari dan mengubah call sing radio dari “UDO” menjadi “NDO”.

Para awak radio NDO tinggal di sini selama lebih kurang 4 bulan sampai serah terima pemerintahan dari Belanda ke pemerintahan Indonesia selesai dilaksanakan. Dan tidak jauh dari sini di sisi Lakuak Siam ada sebuah air terjun yang dulunya para awak radio NDO sering mandi di sini. Dan saya cukup beruntung bisa sampai ke Lakuak Siam ini karena tidak begitu banyak orang yang pernah ke sini. Hanya satu dari anggota AURI yang datang ke tempat ini dan saya yakin itu adalah Umar Said Noor pada tahun 1989 berdasarkan dari buku memoarnya.

Kami pun turun kembali ke bawah dan waktu ashar telah masuk dan saya pun langsung ke sebuah mushalla yang tidak seberapa dari rumah bapak Defrial Hendra tadi. Setelah ashar, hujan mulai turun dan saya bergegas turun ke bawah. Belum seberapa jauh perjalanan, hujan sangat deras dan saya pun berteduh di sebuah pos ronda.

Tidak beberapa lama berteduh hujan pun berganti menjadi gerimis. Namun keinginan yang besar untuk melihat lapangan tembak Denzipur membuat saya berbelok ke kiri dekat pos ronda bersimpang tiga tadi. Dan tidak jauh perjalanan saya pun takjub ada sawah terhampar di lereng gunung sago dan tidak pernah menyangka ada sawah di tempat seperti ini. Tidak seberapa jauh perjalanan saya menemukan sekitar 2 buah rumah dan jalan cor semen pun telah berganti dengan jalan tanah dan licin. Lalu saya memutuskan untuk berbalik untuk kembali pulang.

Saya kembali menuruni jalan tadi menuju arah Parak Lubak, ketika berada di antara perbatasan Bonjor Sari dengan Parak Lubang, hujan turun dengan sangat lebat. Saya berteduh di sebuah warung yang kebetulan lagi tutup. Dengan penuh keramahan, bapak pemilik warung keluar dari rumahnya dan menemani saya berbincang-bincang.

Saya mengutarakan maksud kedatangan baru saja kembali dari Lakuak Siam. Dan bapak itu mulai bicara bahwa di sini dulunya adalah perkebunan dan pabrik teh. Ia lahir di sini dan orang tuanya dulu berasal dari Jawa Tengah. Keadaan pada zaman itu di kampungnya sudah sangat mengkhawatirkan. Kebun dan ladang harus dijaga siang dan malam kalau tidak akan dicuri orang. Pohon kelapa saja kalau tidak dijaga juga akan dicuri. Maka oleh sebab itulah banyak masyarakat di kampungnya ikut bekerja dengan Belanda ke sini termasuk orang tuanya untuk merantau ke sini.

Mulanya orang-orang yang ikut bekerja dengan Belanda merasa khawatir karena biasanya pekerja-pekerja Belanda sering menyiksa para pekerja pribumi. Namun di sini tidak, para pekerja di sini diperlakukan dengan baik. Bahkan penguasa Belanda mendirikan barak-barak untuk para pekerja kebun teh dan difasilitasi tempat perjudian sehingga para pekerja yang sudah selesai menerima gaji akan bertaruh di meja judi akan mengalami uang yang cepat habis. Karena uang sudah habis maka para pekerja pun kembali giat bekerja. Itulah strategi Belanda untuk membuat rakyat pribumi rajin bekerja.

Jorong Parak Lubang atau Tegal Rejo dan Bonjor Sari ini mayoritas penduduknya bersuku jawa. Mereka dulunya adalah para pekerja kebun teh. Setelah Jepang menduduki tempat ini, sebagian warga yang ekonominya mampu akan kembali ke kampung halaman. Dan sebagian ada yang menetap di sini dengan hidup berkebun, bertenak sapi, kambing dll.

Hujan sudah mulai reda dan bapak pemilik warung itu kedatangan tamu maka saya pun pamit untuk pulang. Dan saya menempuh jalan menuju pasar Alang Lawas karena kemarin saya lupa memotret papan nama jalan PDRI di situ. Dan sebelum sampai di pasar Alang Lawas, saya kembali bertemu dengan ibuk tempat saya bertanya tempo hari, ia masih mengenali wajah saya. Dan ia tersenyum ramah ketika saya menyapanya lewat. Dan ketika sampai di pasar Alang Lawas saya pun memotret papan nama jalan itu dan saya pun langsung meluncur ke Payakumbuh dengan sedikit gerimis.

Perjalanan ke Amplasemen Pabrik Teh di Kayu Angik

Lokasi Pabrik Teh

Lokasi Puing-puing Bekas Pabrik Teh  Belanda

Pada hari selanjutnya saya mencoba berjalan ke Kayu Angik untuk melihat bekas pabrik teh di punggang Gunung Sago tersebut. Saya menyusuri jalan melalui Jalan Radio (jalan ke Bonjor Sari) dan ketika ditengah-tengah jalan ada jalan pintas di samping rumah warga dan terus menyusuri jalan setapak di lareng gunung Sago. Di sana terlihat dengan jelas di Bukit Bulat di Taram, Subarang Air di Balai Panjang, Sitanang, Batu Payung, Ampalu bahkan Unggan di Sumpur Kudus.

Di sepanjang lereng gunung ini terdapat banyak perkebunan ubi kayu dan jalan setapak itu pun akhirnya bertemu dengan jalan tanah yang cukup besar dan bisa dilalui oleh mobil. Jalannya cukup keras dan seperti terlihat dari susunan batu-batu sungai yang sangat teliti. Dan saya berjalan kaki sekitar 2 km di lereng Gunung Sago ini. Jalanan terasa sunyi dengan hembusan angin yang terasa lembut. Dan sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hampar kebun singkong yang luas.

Sepertinya saya sudah jauh berjalan namun belum menemukan tempat bekas parbrik teh tersebut. Dan karena hari sudah sore, saya pun kembali turun sebelum hari menjadi gelap. Dan di pejalanan di Parak Lubang, saya bertemu dengan Bapak Muridi dan bertanya-tanya tentang bekas pabrik tersebut. Dan Bapak Muridi pun bersedia mengantarkan saya ke Kayu Angik untuk melihat bekas pabrik tersebut. Bapak Muridi ini salah satu perangkat pemain wayang Parak Lubang. Seperangkat alat wayang ini dulunya adalah hadiah dari pejabat AURI yang datang ke Parak Lubang untuk menyerahkan seperangkat alat wayang serta membangun tugu PDRI yang sekarang.

Saya sampai di rumah Bapak Muridi esok harinya sekitar pukul 09.30 WIB bersama teman yang bernama Zulfahmi dan seorang lagi anak Bapak Muridi. Dan lalu kami berangkat naik motor menuju ke Kayu Angik. Sekitar 200 meter pertama jalanan sedikit becek karena hujan turun semalam. Dan setelahnya jalan tanah yang terkadang cukup licin dan harus hati-hati.

Sekitar 2 km perjalanan akan bertemu dengan persimpangan dan kami memilih ke kiri dan di sebelah kanan jalan dinamakan Lakuak Kuali karena arealnya seperti lekuk kuali yang ditumbuhi oleh kebun singkong yang luas. Dan setelah melewati Lakuak Kuali tersebut lalu terlihatlah tanda-tanda sebuah wilayah pernah di huni. Di sebelah kiri jalan terlihat sebuah batu tempat tiang bendera, dan di sebelah kanan jalan dulunya tempat landasan helikopter tempat mendarat rombongan AURI ketika berkunjung di tahun 1989 dulu. Dan terus berjalan terlihat puing-puing bekas rumah sakit, perumahan pejabat perkebunan teh dan juga bedeng-bedeng pekerjanya.

Di sekitar areal bekas pabrik ini berupa semak-semak. Masih terlihat saluran air di semak-semak, bekas tiang-tiang pabrik. Dan dari keterangan bapak Muridi, pabrik ini dulunya terdiri dari 3 tingkat dan tingkat pertamanya setinggi 9 meter. Sehingga pabrik teh ini dulunya bisa terlihat dari Parak Lubang. Dan kapan berdirinya pabrik ini tidak diketahui secara pasti, namun ketika orang tua Bapak Muridi pindah dari pulau Jawa ke sini sekitar tahun 1930-an.

Dari bekas pabrik ini yang masih diketahui dengan jelas adalah tempat pe-layu-an teh yang terdiri berupa lubang segi empat dengan panjang sekitar 12 meter, lebar 6 meter dan dalamnya 6 meter. Dan sekarang lubang itu sudah tertimbun oleh reruntuhan puing-puing pabrik yang dalamnya sudah tinggal sekitar 2,5 meter. Di dalam lubang tersebut terdapat terowongan-terowongan pintu angin yang berkelok-kelok dan sangat dalam.

Bekas Pelayuan Teh peninggalan Belanda

Bekas Pelayuan Teh peninggalan Belanda

Di bawah bekas areal pabrik terdapat sebuah ngarai yang bernama Kawasan Tadah. Dan kawasan pabrik ini setelah didatangi oleh rombongan pejabat PDRI yang mengungsi dari Bukittinggi pada tanggal 20 Desember 1948 dini hari, maka kawasan pabrik ini dibakar setelah pejabat PDRI meninggalkan Halaban supaya daerah ini tidak lagi didatangi oleh Belanda. Dan pabrik ini kembali dibangun setelah oleh Koperasi Indonesia hingga sampai pada tahun 2010. Setelah itu aktifitas pabrik tersebut terhenti dan pralatan pabrik pun di jarah oleh masyarakat hingga rata dengan tanah. Dan setelah areal perkebunan teh ini tidak lagi dikelola oleh Koperasi Indonesia maka lahan-lahan di lereng Gunung Sago ini digarap oleh warga dan ditanami dengan singkong.

Setelah dari areal bekas pabrik, kami melanjutkan perjalanan dengan kembali ke simpang tadi lalu belok kiri dan tidak jauh dari sana terletak puing-puing perumahan pejabat-pejabat Belanda. Di sini terdapat berupa sebuah kolam renang yang berbentuk persegi dengan ukuran panjang lebih kurang 20 meter dan dalamnya sekitar 2 meter. Dan tidak jauh dari situ terdapat sebuah bekas jalan yang melingkari perumahan. Bentuk rumah tersebut diperkirakan seperti rumah-rumah kastil ala Belanda. Di reruntuhan puing tersebut terdapat tungku pembakaran yang sudah ditumbuhi lumut. Dan di sinilah para pejabat PDRI menginap ketika mengungsi dari Bukittinggi yang tiba pada dini hari pada tanggal 20 Desember 1948.

Bekas Kolam Renang Peninggalan Belanda

Bekas Kolam Renang Peninggalan Belanda

Setelah pejabat PDRI meninggalkan Halaban maka perumahan ini juga turut dimusnahkan agar tidak digunakan oleh Belanda. Sekarang puing-puing reruntuhan tersebut sudah ditumbuhi pohon-pohon rendah yang tumbuhnya sangat rapat. Dan di antara puing-puing tersebut terlihat marmer-marmer rumah Belanda terlihat unik dan bagus serta juga terdapat pecahan piring dan kaca-kaca dari reruntuhan tersebut.

Dari Kiri ke Kanan Zulfahmi, Feni Efendi, Anak Pak Muridi, Pak Muridi

Dari Kiri ke Kanan Zulfahmi, Feni Efendi, Anak Pak Muridi, Pak Muridi

Hari pun sudah beranjak tengah hari lalu kami meneruskan perjalan melingkar yang nanti tembusnya di Bonjor Sari nagari Labuah Gunung. Jarak perjalanan sekitar 4 km dengan jalan-jalan yang tidak terasa ada tanjakannya. Dan tata kota yang dibentuk oleh Belanda di atas gunung ini memang patut diacungi jempol. Dan dari Bonjor Sari kami terus ke Parak Lubang lalu akhirnya kembali lagi ke Payakumbuh.

Puing-puing Bekas Rumah Sakit di kayu Angik

Puing-puing Bekas Rumah Sakit di kayu Angik

Feni Efendi, Payakumbuh, 2017

HP/WA 081267727161

3 thoughts on “PDRI DI HALABAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *